Da'i Buta, Pelita Ummat di Bulukumba
Da'i Buta, Pelita Ummat di Bulukumba
Buta mata bukan berarti hatinya
buta. Justru karena buta ia menjadi orang berguna
Salah kalau menganggap semua orang buta itu
bodoh. Lihat saja Muhammad Iqbal Coing (30), ia mampu menghafalkan al-Qur'an 30
juz (hafidz), sesuatu yang tidak sembarang orang menguasainya. Ia juga seorang
kiai yang mengasuh 110 santri. Bukan itu saja, kini Iqbal, begitu panggilan
da'i muda ini lagi digandrungi ummat Islam di Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Dalam sehari rata-rata ia berceramah 3 kali
dengan tempat berbeda-beda. Bahkan kadang sampai ke Sinjai dan Bantaeng, dua
kabupaten yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bulukumba. Jamaahnya
beragam, mulai dari remaja, dewasa, ibu-ibu dan juga para pejabat. Andi Patabai
Pabokari, Bupati Bulukumba pernah meminta Iqbal ceramah di kantornya ketika dia
menetapkan hari Jum'at sebagai hari ibadah.
Isi ceramahnya bukan saja berbobot tapi juga
memikat retorikanya. Ceramahnya gampang menyentuh kalbu jamaahnya dan sesekali
diselipi humar segar. Selain itu, juga menyelipkan informasi-informasi terbaru
tentang persoalan-persoalan yang berkembang di sekitarnya, mulai dari ekonomi,
politik dan sosial baik nasional maupun internasional. "Beliau seakan-akan
melihat semua kejadian dan perkembangan yang ada, seakan-akan beliau tidak
buta," kata As'ad Salam, Ketua KPPSI (Komite Persiapan Penegakan Syariat
Islam) Bulukumba, yang sering mengantar dan menjemput Iqbal untuk ceramah.
"Meskipun saya tidak bisa membaca, tetapi masih bisa mendengar. Saya aktif
mengikuti perkembangan dunia lewat berita radio," begitu ayah lima anak
ini memberi resepnya. Cara lain, kadang ia meminta santrinya membacakan
berita-berita di koran dan majalah.
Iqbal tidak cuma tampil di majelis taklim,
beberapa kali ia Iqbal juga bicara di forum ilmiah, misalnya seminar. Seperti
disaksikan Suara Hidayatullah (Sahid) sendiri di Masjid Babul Jihad,
Kecamatan Kindang. Iqbal mempresentasikan makalahnya berjudul, "Peran dan
Kedudukan Wanita Menurut Pandangan Islam." Tema itu dibahas oleh Iqbal secara
sistematis dengan mengutip beberapa hadits dan ayat al-Qur'an. "Makalah
itu diketik oleh anak-anak (santri), saya hanya mendikte saja," Iqbal
memberi pengakuan.
Dengan kemampuannya di atas, harus diakui
bahwa ingatan Iqbal memang sangat kuat. Bukti lain, ia bisa mengenali seseorang
hanya dari suaranya. "Saya sempat kaget, seingat saya baru sekali ketemu
beliau, tetapi beliau bisa mengenali saya," ungkap Hamka, salah seorang
jamaah Iqbal. Begitu pula dengan pengakuan para santri. Hanya saja, di mata orang
lain Iqbal dipandang punya kelebihan, ia sendiri menganggap biasa-biasa.
"Saya tidak punya kelebihan apa-apa, saya juga tidak punya karomah, saya
hanyalah mahluk biasa seperti kalian," begitulah Iqbal selalu merendah.
Kelebihan Iqbal yang lain, ia mampu menjadi
rem perekat dan bisa diterima berbagai kelompok ummat Islam di Bulukumba.
Seperti diakui diungkapkan oleh As'ad Salam, "Keberadaan Iqbal di
Bulukumba menjadi pemersatu ummat."
Kelompok-kelompok ummat Islam di kota yang
terkenal karena pembuatan kapalnya itu antara NU, Muhammadiyah, Wahdah
Islamiah, dan juga ada beberapa harakah. Di antara kelompok-kelompok itu kadang
muncul gesekan-gesekan yang bisa memicu perpecahan. Di situlah peran Iqbal
mempererat tali ukhuwah islamiah. Ia sendiri mengaku netral. "Saya tidak
memihak pada satu kelompok atau organisasi Islam tertentu. Dan saya berdakwah
bukan karena kelompok, tapi karena Allah," tegasnya.
Tantangan lain yang dihadapi Iqbal adalah
masih kuatnya kepercayaan sebagian masyarakat Bulukumba terhadap mitos-mitos.
Misalnya, tidak sedikit ummat yang masih suka memberi sesajen kepada pohon
besar atau ke kuburan. Menghadapi masyarakat seperti ini, kata Iqbal, mesti
hati-hati. "(Sebab) jika dikerasi, mereka tidak akan menerima kita,"
katanya. Sehingga Iqbal menggunakan kiat tersendiri dalam mendekati orang-orang
yang masih menganut kepercayaan seperti itu.
Di beberapa desa tertentu yang masih kuat
kepercayaan tahayulnya, Iqbal tidak memberikan ceramah fiqh yang berkaitan
dengan halal haram. Melainkan mengenalkan kemurnian ajaran Islam dan
manfaat-manfaatnya. Ini penting untuk menumbuhkan kesadaran pada masyarakat.
Lahir Buta
Iqbal lahir dari pasangan Coing dan Umming 30
tahun lalu di Salomekko, Kajuara, Sulawesi Selatan. Ayahnya seorang guru SD,
ibunya petani biasa. Berbeda dengan saudara-saudaranya lain yang normal, sejak
lahir Iqbal sudah buta. Beruntung ayahnya seorang yang bijak, meski si buah
hati cacat tapi dia tak ingin anaknya itu bodoh. Iqbal kemudian dititipkan di
SD di desanya sebagai anak bawang. Sekedar menambah pengalaman dan pengetahuan,
begitu mungkin maksud ayahnya. Di dalam kelas memang tidak banyak yang bisa
dilakukan Iqbal, selain duduk manis sambil mendengarkan apa yang diajarkan
guru. Itu dilakukan selama tiga tahun. Ketika usia SMP, kembali Iqbal
dititipkan di sebuah SMP di daerahnya selama dua tahun. Di sini pun Iqbal cuma
menjadi mustami' (pendengar). Meskipun demikian, proses belajar yang unik itu
cukup membuka wawasan Iqbal, hingga memunculkan pertanyaan di dalam benaknya,
"Kalau begini terus mau jadi apa?"
Renungan sekelebat itu nyatanya mampu
mendorong tekad baru. Apalagi ia mengetahui orang-orang buta seperti dirinya
nasibnya lebih banyak yang memprihatinkan. Ada yang jadi pengamen, semir sepatu
dan bahkan pengemis. Ia tak ingin menjadi seperti itu. Ia ingin menjadi orang
yang berarti bagi orang lain. Terlintas di dalam benaknya, ia ingin menjadi
penghafal al-Qur'an saja. "Karena saya tidak bisa membaca, jadi saya harus
menghafalkannya," ujarnya.
Tahun 1989, Iqbal berangkat ke Pondok
Pesantren Darul Istiqomah, Macoppa, Kab. Maros, untuk mejadi santri
penghapal/tahfidz. Dasar ingatannya yang tajam, kurun waktu 2,5 tahun, Iqbal
telah dapat menghapal al-Qur'an (30 juz). "Sebenarnya dalam waktu 1,5
tahun saya sudah hafal, tapi yang satu tahunnya saya pakai untuk mengulang dan
memperlancar hafalan," ungkap Iqblal.
Bagaimana cara Iqbal menghafal? Ia dibantu
ustadz-ustadz yang menjadi tenaga pengajar di Pesantren Istiqomah. Prosesnya,
salah seorang ustadz membacakan al-Qur'an ayat demi ayat, kemudian Iqbal
menghafalkannya. Untuk memperlancar hafalan, Iqbal menggunakan kaset, begitu
seterusnya.
Tidak hanya menghafal, Iqbal juga memperdalam
ilmu-ilmu keislaman lainnya seperti tafsir, hadist, fiqh, tauhid, Bahasa Arab
dah lain-lain. Seperti kala dititipkan di SD dan SMP dulu, di sini pun Iqbal
melulu mengandalkan pendengaran dan ingatannya. Kalau ada sesuatu yang tidak
jelas, baru ia bertanya kepada ustadznya.
Mei l992, Iqbal `naik pangkat' menjadi guru
tahfidz (penghafal), karena dianggap hafalannya sudah mantab. Saat bersamaan ia
menyunting wanita shalihah bernama Nahariah. Pasangan ini kini telah dikaruniai
5 orang anak.
Delapan tahun kemudian, ia mendapat amanah
baru yaitu memimpin Pesantren Darul Istiqomah Cabang Timbusesng, Gowa. Baru
berjalan 1,5 tahun, Iqbal dipindah ke Bulukumba memimpin pesantren yang sama,
hingga kini.
Di Bulukumba Darul Istiqomah cukup besar.
Arealnya seluas 1 hektar dengan 5 buah bangunan permanen berdiri di atasnya,
terdiri dari masjid, asrama, sekolah, kantor dan rumah pembina. Di sini Iqbal
betul-betul menanamkan nilai-nilai kepada seluruh santrinya. Program shalat
malam dan puasa Senin Kamis hampir-hampir wajib untuk para santri yang
berjumlah 110 anak. Bahkan pada malam Ramadhan, Iqbal selalu mengadakan shalat
malam selama 4 jam setiap, dimulai pada pukul 24.00 hingga 4 pagi.
Setiap hari Iqbal
mengajar mulai pagi hingga siang. Ia mengajar berbagai ilmu, antara lain ushul
fiqh, hadist, nahwu -sharaf, dan tazkiyatun nafs. Jadi teranglah,
seorang yang tidak buta tidak berarti lebih pintar dari orang buta. Iqbal
sendiri bersyukur matanya buta. "Karena mengurangi dosa saya. Sebab,
dengan demikian mata saya tidak melakukan zina," katanya. Subhaanallah!•


Komentar
Posting Komentar