Hukum Jual Beli Kredit
Hukum Jual Beli Kredit
Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
Tanya :
Fadhilatus Syaikh Muhammad Nashhiruddin Al-Albani ditanya : Bagaimana hukum syara (agama) tentang jual beli dengan sistem kredit dalam pembayarannya .?
Jawab :
Jual beli dengan sistem kredit (bittaqsith) adalah bid'ah amaliyah yang
tidak dikenal kaum muslimin pada abad-abad (qurun) dahulu. Hal itu
adalah amalan yang dipraktekkan orang-orang kafir sebelum menduduki
negara kaum muslimin, kemudian menjajahnya dan mengatur negara
jajahannya dengan undang-undang mereka yang kafir.
Setelah medapatkan keuntungan yang besar dari negara jajahannya, mereka
pergi meninggalkan pengaruh-pengaruh buruk dalam negara itu. Sedangkan
kaum muslimin yang hidup pada zaman sekarang berada dalam tata
kehidupan (muamalat) peninggalan orang-orang kafir tersebut. Yang lebih
penting sebagaimana yang diucapkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam.
"Artinya : Saya tidak meninggalkan suatu yang dapat mendekatkan kalian
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, melainkan telah saya perintah kalian
dengannya. Dan tidaklah saya meninggalkan suatu yang dapat menjauhkan
kalian dari Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mendekatkan kalian ke neraka,
melainkan telah saya peringatkan kalian daripadanya". [Lihat As-
Shahihah : 1803]
Dari situ sesungguhnya Rasulullah telah melarang amalan yang pada hari
ini dinamakan " Jual Beli Sistem Kredit" (Bittaqsith). Jual beli ini
adalah bid'ah yang tidak dikenal kaum muslimin sebelumnya.
Saya ingatkan juga, nama ini adalah bid'ah yang tidak ditemukan dalam
kitab-kitab fiqih manapun, yang menyebutkan "Jual Beli Sistem Kredit". Dalam kitab-kitab kaum muslimin ada sistem hutang dan dinamakan "Pinjam
Meminjam Yang Baik" (Qardhul Hasan), sebagai istilah dalam hubungan
muamalat kaum muslimin. Padahal Nabi memberi anjuran terhadap pinjam
meminjam yang baik, dapat mencapai derajat keutamaan. Diibaratkan
dengan memberi pinjamam 2 dinar, seperti kalau engkau memberi shadaqoh
1 dinar. Maksudnya apabila engkau telah meminjamkan 2 dinar kepada
saudara engkau yang muslim, seakan-akan engkau telah mengeluarkan
shodaqoh 1 dinar dari saku engkau.
Sebagaimana anjuran pinjam meminjam yang baik, Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam melarang memungut tambahan sebagai ganti kesabarannya
terhadap saudara engkau yang muslim, dalam memenuhi hutangnya.
Berkata Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Artinya : Barangsiapa yang menjual dua jualan dalam satu jualan maka
hak baginya adalah harga yang kurang, atau termasuk riba".
Dalam riwayat lain.
"Artinya : Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang dua jual beli
dalam satu jual beli".
Ditanya seorang yang meriwayatkan hadits ini tentang makna larangan
tersebut. Maka jawabnya.
"Engkau berkata, saya jual ini kepada engkau dengan harga sekian secara
kontan, jika nyicil (kredit) dengan harga sekian dan sekian".
Atau lebih jelasnya, saya jual barang ini kepada engkau dengan harga
100 dinar secara kontan, dan harga 105 dinar secara kredit.
Bersabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Artinya : Barangsiapa yang menjual dua jualan dalam satu jualan maka
hak baginya adalah harga yang kurang, atau termasuk riba".
Maksudnya apabila dia mengambil tambahan maka itulah riba. Seperti
barang ini, yang telah engkau jual dengan harga 105 dinar, yang 5 dinar
sebagai ganti kesabaran menunggu.
Kalau ada hukum Islam bagi individu dan pemerintah, untuk seorang
pembeli yang telah dipungut 5 dinar oleh pedagang sebagai ganti
kesabaran menunggu, maka pembeli tersebut berhak menuntut dan
mengadukan kepada ahli ilmu.
Inilah makna hadits tersebut, yang dijual satu tetapi yang ditawarkan
dua jualan atau dua jual beli. "Kontan dengan harga sekian hutang
dengan harga sekian". Rasulullah menamakan tambahan yang dikarenakan
hutang dengan nama riba.


Komentar
Posting Komentar