Memberatas Korupsi

Assalamu ‘Alaikum Wr.Wb.
Pak Dudung,
Kata Rasulullah SAW “barangsiapa yang
melihat kemungkaran (misalnya korupsi) maka ubahlah dengan tanganmu (dengan
kekuasaanmu / pangkat / jabatannya) jika tidak mampu (tidak punya kekuasan
untuk itu) rubahlah dengan ucapannya (saran / bicara / ngomong dll) dan jika
tak mampu (tak bisa bicara atau karena
takut ) maka dengan hatinya , yang demikian itu (hanya dalam hati saja ) adalah
selemah-lemahnya iman.
Apalagi mendiamkan kemungkaran seperti
mebiarkan korupsi dimana-mana padahal mereka punya kekuasaan untuk merobahnya
dengan jabatannya itu, itu termasuk perbuatan dosa.
Untuk memperoleh haji yang mabrur yang
balasannya surga itu, salah satu syaratnya menjadi haji mabrur di kitabnaya
Imam Gazali yang sangat terkenal itu (Ihya Ulumuddin) adalah ongkosnya dari
harta / uang yang halal. Jadi kalau hasil korupsi atau uang haram mana mungkin
bisa jadi mabrur, uang haram dari hasil korupsi itu haram juga dimakan.
Taubatnya oarang yang korupsi / pemcuri / maling itu harus mengemabalikan hasil
korupsinya dan bertaubat tak mau mengulangi lagi. Contohnya apabila ada seorang pejabat korupsi satu milyar
misalnya kemudian untuk ONH plus sama isterinya katakan seratus juta, masih
tinggal 900 juta apakah hajinya diterima dan taubatnya diterima, padahal dia
telah mendhalimi rakyat banyak dan menyengsarakan rakyat banyak karena
perbuatan korupsinya itu telah sangat merusak tatanan kehidupan. Padahal di
akhirat kebanyakan orang dahalim itu yang dilempar ke neraka, banyak keterangan
hadisnya dan banyak keterangan di Quran tenatang perbuatan yang merusak itu
adalah perbuatan dosa besar dan diancam neraka bahkan di dunia menurut quran
perbutan fasad (merusak secara massal itu misalnya koruptor bisa diancam dengan hukuman dibunuh) .
Intinya haji yang mabrur itu pertama
ongkosnya dari uang yang halal selain rukun dan wajib hajinya telah dipenuhi.
Perbuatan membentuk pemberantasan anti
korupsi adalah diwajibkan oleh Allah SWT sebagi perbuatan amar ma’ruf nahi
mungkar dan pahalanya sangat besar sekali, coba perhatikan sebagian ayat-ayat
quran tentang kewajiban amar ma’ ruh nahi mungkar (memrintah / menyuruh
perbuatan yang baik dan melarang perbuatan yang mungkar / fasad misalnya
korupsi:

Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang
sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada
(mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara
orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang
zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka
adalah orang-orang yang berdosa.(QS.11:116)

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan
umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah
dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.(QS.3:104)

Kamu adalah umat yang terbaik yang
dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang
munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu
lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan
mereka adalah orang-orang yang fasik.(QS.3:110)

Mereka beriman kepada Allah dan hari
penghabisan mereka menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar
dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk
orang-orang yang saleh.(QS.3:114)

Maka tatkala mereka melupakan apa yang
diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari
perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang
keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.(QS.7:165)

Orang-orang munafik laki-laki dan
perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh
membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma`ruf dan mereka menggenggamkan
tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka.
Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.(QS.9:67)

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan
perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang
lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma`ruf, mencegah dari yang mungkar,
mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka ta`at kepada Allah dan
Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS.9:71)

Mereka itu adalah orang-orang yang
bertaubat, yang beribadat, yang memuji (Allah), yang melawat, yang ruku`, yang
sujud, yang menyuruh berbuat ma`ruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang
memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mu'min itu.(QS.9:112)

(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan
kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan
zakat, menyuruh berbuat yang ma`ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar;
dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.(QS.22:41)
Assalamu 'Alaikum Wr.Wb.
Seperti ummat Islam semua tahu bahwa di bulan
Romadhan Allah SWT menurunkan Al Quran,
seperti dalam FirmanNya (bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya
diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan
penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan
yang bathil). , (QS.Al Baqoarah/2:185) dan petunjuk baqi orang-orang yang
bertaqwa (QS AlBaqarah /2:1-5) supaya bahagia baik di dunia dan lebih-lebih
bahagia di akhirat yang merupakan kehidupan yang haqiqi yang kekal.
Allah SWT menbagi 3
tingkatan orang-orang mukmin sebagaimana dalam Firman Allah Ta'ala:


"Kemudian Kitab itu
Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami,
lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara
mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu
berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat
besar."(QS. Al fathir/35:32)
Tiga Golongan ummat Islam menurut
pandangan Allah SWT (QS. Al fathir/35:32)
Seperti ummat Islam semua tahu bahwa di bulan
Romadhan Allah SWT menurunkan Al Quran,
seperti dalam FirmanNya (bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya
diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan
penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan
yang bathil). , (QS.Al Baqoarah/2:185) dan petunjuk baqi orang-orang yang
bertaqwa (QS AlBaqarah /2:1-5) supaya bahagia baik di dunia dan lebih-lebih
bahagia di akhirat yang merupakan kehidupan yang haqiqi yang kekal.
Allah SWT menbagi 3
tingkatan orang-orang mukmin sebagaimana dalam Firman Allah Ta'ala:


"Kemudian Kitab itu
Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami,
lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara
mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu
berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat
besar."(QS. Al fathir/35:32)
Allah mewahyukan Alquran
itu kepada Nabi Muhammad saw, kemudian ilmu dan pengetahuan Alquran itu
diwariskan Nya kepada hamba-hamba Nya yang pilihan. Mereka itu adalah umat Nabi
Muhammad, seperti yang dinukilkan dari Ibnu `Abbas. Sebab Allah telah
memuliakan umat ini melebihi kemuliaan yang diperoleh umat sebelumnya.
Kemuliaan itu tergantung kepada faktor sejauh manakah ajaran Rasulullah itu
mereka amalkan, dan sampai di mana mereka sanggup mengikuti petunjuk Allah
(Tafsir Al Khazib Juz: V, hal: 248). Lebih jauh dijelaskan tingkatan-tingkatan
orang mukmin yang mengamalkan Alquran itu, sebagai berikut:
1. Orang yang zalim kepada dirinya. Maksudnya orang yang mengerjakan sebahagian perbuatan yang wajib (menurut hukum agama) dan juga tidak meninggalkan sebagian perbuatan terlarang (haram).
2. Muqtasid, yakni orang-orang yang melaksanakan segala kewajiban-kewajiban agamanya, dan meninggalkan larangan-larangannya, tetapi kadang-kadang ia tidak mengerjakan perbuatan-perbuatan yang dipandang sunah atau masih mengerjakan sebagian pekerjaan-pekerjaan yang dipandang makruh.
3. Sabiqun bil khairat, yaitu orang yang selalu mengerjakan amalan yang wajib dan sunah, meninggalkan segala perbuatan yang haram dan makruh serta sebahagian hal-hal yang mubah (dibolehkan).
Menurut Mustafa Al Maragi pembagian di atas dapat pula diungkapkan dengan kata-kata lain, yaitu:
1. Orang yang masih sedikit mengamalkan ajaran Kitabullah dan terlalu senang memperturutkan kemauan nafsunya, atau orang yang masih banyak amal kejahatannya dibanding dengan amal kebaikannya.
2. Orang yang seimbang antara amalan kebaikan dan kejahatannya.
3. Orang yang terus menerus mencari ganjaran Allah dengan melakukan amal-amal kebaikan.
Para ulama ahli tafsir telah meriwayatkan beberapa hadis sehubungan dengan maksud di atas, antara lain ialah:
1. Hadis Rasulullah riwayat Al Bagawy dari Abu Darda', di mana setelah beliau membaca ayat 32 surat Fatir di atas bersabda:
1. Orang yang zalim kepada dirinya. Maksudnya orang yang mengerjakan sebahagian perbuatan yang wajib (menurut hukum agama) dan juga tidak meninggalkan sebagian perbuatan terlarang (haram).
2. Muqtasid, yakni orang-orang yang melaksanakan segala kewajiban-kewajiban agamanya, dan meninggalkan larangan-larangannya, tetapi kadang-kadang ia tidak mengerjakan perbuatan-perbuatan yang dipandang sunah atau masih mengerjakan sebagian pekerjaan-pekerjaan yang dipandang makruh.
3. Sabiqun bil khairat, yaitu orang yang selalu mengerjakan amalan yang wajib dan sunah, meninggalkan segala perbuatan yang haram dan makruh serta sebahagian hal-hal yang mubah (dibolehkan).
Menurut Mustafa Al Maragi pembagian di atas dapat pula diungkapkan dengan kata-kata lain, yaitu:
1. Orang yang masih sedikit mengamalkan ajaran Kitabullah dan terlalu senang memperturutkan kemauan nafsunya, atau orang yang masih banyak amal kejahatannya dibanding dengan amal kebaikannya.
2. Orang yang seimbang antara amalan kebaikan dan kejahatannya.
3. Orang yang terus menerus mencari ganjaran Allah dengan melakukan amal-amal kebaikan.
Para ulama ahli tafsir telah meriwayatkan beberapa hadis sehubungan dengan maksud di atas, antara lain ialah:
1. Hadis Rasulullah riwayat Al Bagawy dari Abu Darda', di mana setelah beliau membaca ayat 32 surat Fatir di atas bersabda:
فأما الذين سبقوا بالخيرات فأولئك الذين يدخلون الجنة بغير حساب.
أما
الذين اقتصدوا فأولئك الذين يحاسبون حسابا يسيرا,
وأما
الذين ظلموا أنفسهم فأولئك الذين يحسبون في ذلك المكان حتى يصيبهم الحزن فيدخلون
الجنة
ثم
تلا:
الحمد لله الذي أذهب عنا الحزن إن ربنا لغفور إن
ربنا لغفور شكور
(رواه أحمد)
Artinya:
"Adapun orang yang berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan mereka akan masuk surga tanpa hisab (perhitungan), sedang orang-orang pertengahan (muqtasid) mereka akan dihisab dengan hisab yang ringan, dan orang-orang yang menganiaya dirinya sendiri mereka akan ditahan dulu di tempat (berhisab nya), sehingga ia mengalami penderitaan kemudian dimasukkan ke dalam surga. Kemudian beliau membaca "Alhamdulilldhil lazi azhaba annal hazana inna rabbana lagafurun syakur". (Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami, sesungguhnya Tuhan kamu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri). (H.R. Ahmad)
Warisan mengamalkan kitab suci dan kemuliaan yang diberikan kepada umat Nabi Muhammad itu merupakan suatu karunia yang amat besar dari Allah, yang tidak seorang pun dapat menghalangi ketetapannya itu.
"Adapun orang yang berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan mereka akan masuk surga tanpa hisab (perhitungan), sedang orang-orang pertengahan (muqtasid) mereka akan dihisab dengan hisab yang ringan, dan orang-orang yang menganiaya dirinya sendiri mereka akan ditahan dulu di tempat (berhisab nya), sehingga ia mengalami penderitaan kemudian dimasukkan ke dalam surga. Kemudian beliau membaca "Alhamdulilldhil lazi azhaba annal hazana inna rabbana lagafurun syakur". (Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami, sesungguhnya Tuhan kamu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri). (H.R. Ahmad)
Warisan mengamalkan kitab suci dan kemuliaan yang diberikan kepada umat Nabi Muhammad itu merupakan suatu karunia yang amat besar dari Allah, yang tidak seorang pun dapat menghalangi ketetapannya itu.
Semoga keterangan ulama
tafsir ini bisa memutivasi kita untuk meningkatkan iman dan taqwa kita semua
sehingga kita bisa berlomba ntuk untuk berbuat yang baik yang diridhoi Allah
SWT.
"Yang nyogok dan yang disogok
keduanya ada di neraka" (Arrosi wal murtasai kilahuma fin nar), kalau
hadis yang singkat ini dilaksanakan dalam segala hal di Indonesia ini sudah
menjadi negara adil dan makmur yang dicita-citakan kita semua.
Perlu kiranya kita semua ketahui
bahwa setiap apa yang kita pilih apalagi memilih untuk calon pemimpin ini
semuanya oleh Allah SWT akan dimintai pertanggung jawaban / ditanya oleh Allah
SWT nanti di hari penghitungan amal ? yaumul hisab / hari kiamat "(Yaitu)
hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan
segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah." (QS. Alinfithar/82:19)
, bahwa semuanya itu termasuk kita pilih pemimpin akan dimintai peratanyaan
oleh Allah SWT seperti dalam firmanNya:
"Sesungguhnya pendengaran,
penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya."
(QS.17:36), dan jelas sekali haram hukumnya dan diancam dengan neraka kalau
kita memilih pemimpin-pemimpin orang-orang munafik atau orang kafir dan banyak
sekali itu dijelaskan dalam Quran dan Sunnah RasulNya.
Di awal surat Albaqorah 1-20,
disitu Allah SWT membagi manusia menjadi tiga bagian, 1-5 yaitu ciri-ciri
orang-orang yang bertaqwa / muttaqun , juga diperjelas di surat Albaqaarah ayat
177 dan Al Imran surat 133-136,
sedangkan orang-arang kafir di 6-7 dan ciri-ciri orang munafik di 8-20
panjang sekali Allah mendiskripsi tentang orang munafik ini disamping ada nama
surat tersendiri yaitu Surat "almuanfiqun" diruat yang ke 63.
Sedangkan golongan orang-orang yang bertaqwa tersebut adalah calon-calon
penghuni surga yang kekal, dan golongan kafir dan munafik itu calon calon
penghuni neraka yang kekal. Kalau orang kafir kita sangat dengan mudah lihat,
tapi orang muanafik ini tidak mudah malah dari itu Allah mendiskripsi yang
panjang lebar tentang golongan yang satu ini bahkan kata Allah SWT di Quran
dikatakan bahwa orang-orang munafik itu tempatnya di kearknya neraka jahanam
kekal selamanya seperti dalam firmanNya "Sesungguhnya orang-orang munafik
itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu
sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka." (Qs.
annisa'/4:145).
Juga orang-orang munafik dalam
sepak terjang mereka baik dengan jabatannya itu apakah itu di DPR/MPR atau di
pemerentahan sama sekali tidak memperjuangkan agama Allah yaitu Islam malah
langsung atau tidak langsung mereka memusui Islam dalam bermacam macam
kebijakan yang mereka ambil. Yang jelas orang-orang munafik itu kalau dikasih
amanah / kepercayan malah hianat / menghianatinya atau menghianati yang
memilihnya, kalau ngomong mereka banyak bohongnya artinya kejujurannya tidak
ada pada mereka, singkatnya lebih banyak nipunya. Coba perhatikan Sabda
Rasulullah SAW:
"Tanda-tanda orang munafik
itu ada tiga yaitu jika ngomong / bicara bohong, jika berjanji ingkar janji dan
apabila dipercaya nipu" (HR. Bukari-Muslim dan lainnya) betapa banyak
berkampanye sudah masuk kreteria hadis ini.
Bahkan Allah dengan tegas
menambahkan salah satu tandanya orang munafik seperti dalam firmanNya:
"Sesungguhnya orang-orang
munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila
mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya
(dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali
sedikit sekali." (QS. Annisa/4:142).
Sebagai pemimpin harus memiliki
sifat yang dianjurkan rasullah SAW "Siddik / jujur / benar, Fathonah /
cerdas, dan amanah / dapat dipercaya"
Saya pikir sudah cukup jelas
bagaimana kita harus memilih pemimpin supaya kita selamat bahagia di dunia dan
di akhirat.
Milih Pemimpin dan Hukumnya menurut Quran
Tulisan ini menanggapi tulisan Pak
Djohan Arifin dan Mas Fathul,
Pada Prinsipnya kedua simalakama
itu sumanya dilarang dipilih oleh Allah SWT dan RasulNya, yang satunya orang
Kafir dan lainnya orang fasik (koruptor)
Sebagai pemimpin harus memiliki
sifat yang dianjurkan rasullah SAW "Siddik / jujur / benar, Fathonah /
cerdas, dan amanah / dapat dipercaya"
Adapun larangan tegas memilih
orang-orang kafir atau orang-orang munafik sebagai Pemimpin misalnya Presiden
Allah SWT melarang dengan tegas di banyak ayat-ayatnya dalam Quran silahkan
baca dibawah ini ( saya belum tulis semua skaing banyaknya)
Allah SWT berfirman:
"Janganlah orang-orang mu'min
mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang
mu'min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan
Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari
mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya
kepada Allah kembali (mu)".(QS.Ali Imran/3:28)
"Hai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di
luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan
bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari
mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi.
Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu
memahaminya."(QS.Ali Imran/3:118)
"Mereka ingin supaya kamu menjadi
kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan
mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong (mu),
hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan
bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil
seorangpun di antara mereka pelindung, dan jangan (pula) menjadi
penolong,"(QS.Annisa/4:89)
"Kabarkanlah kepada
orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih,(yaitu)
orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong
dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi
orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan
Allah."(QS.Annisa/4:139)
"Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan
orang-orang mu'min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah
(untuk menyiksamu)?"(QS.Annisa/4:144)
"Hai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi
pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang
lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka
sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."((QS.Almaidah/5:51)
"Hai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat
agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang
telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik).
Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang
beriman."(QS.Almaidah/5:57)
"Sekiranya mereka beriman
kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya
(Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi
penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang
fasik."(QS.Almaidah/5:81)
"Hai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu
pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan
siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka
itulah orang-orang yang zalim.(QS. Attaubah/9:23)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah
kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu
sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang;
padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu,
mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah,
Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari
keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara
rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku
lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan
barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah
tersesat dari jalan yang lurus."(QS. AlMumtahanah/60:1)
Wassalam,
Achmad Muzammil


Komentar
Posting Komentar