panah setan
Oleh : Shalih bin
Muhammad Al-Wunaiyyan
Mukaddimah
Segala
puji hanyalah bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala semata. Kami se-nantiasa
memuji-Nya, memohon pertolongan serta meminta ampunan kepada-Nya. Kami memohon
perlindungan kepada-Nya dari kejahatan yang dibisikkan oleh jiwa-jiwa kami,
serta dari keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah berikan
hidayah, niscaya tiada satu orang pun yang dapat menyesatkannya, dan
barangsiapa yang disesatkan-Nya, niscaya tiada seorang pun yang dapat
memberinya hidayah.
Aku
bersaksi bahwa tiada sesembahan yang ber-hak diibadahi dengan benar selain
Allah Subhanahu wa Ta'ala semata, tiada sekutu baginya. Dan aku bersaksi bahwa
Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah seorang hamba dan utusan-Nya.
Shalawat dan salam semoga tercurah atas junjungan kita Nabi Muhammad
shallallahu 'alaihi wasallam, atas segenap keluarga serta seluruh sahabat
beliau.
Amma
ba'du,
Wahai
pembaca yang mulia, sebelumnya kami ucapkan: Salamun 'Alaikum wa
Rahmatullahi wa Bara-kaatuhu,
Sudah
kita maklumi bersama bahwa banyak sekali tipu daya setan untuk menyesatkan bani
Adam. Oleh sebab itu, saya katakan dengan serta merta meminta pertolongan
kepada Allah, bahwa panah-panah setan tersebut sangat banyak. Panah yang dapat
melumpuh-kan mangsanya sehingga tidak kuasa berbuat kebaikan dan mampu
menggiringnya untuk selalu mengikuti hawa nafsu serta berkhayal yang
muluk-muluk. Jika se-buah panah meleset dari sasarannya, pasti akan diikuti
dengan panah kedua, ketiga dst. Syair di bawah ini sangat tepat untuk
menggambarkan hal itu:
"Sekiranya hanya sebuah panah niscaya akan dapat
kuelakkan.
Namun begitu satu meleset maka dua, tiga pun terbilang."
Namun begitu satu meleset maka dua, tiga pun terbilang."
Saudaraku
yang mulia, membebaskan diri dari segala cela dan menghindar dari panah tipu
daya setan adalah fase yang sangat menentukan dalam membentuk pribadi yang
luhur dan terbina. Terutama bagi yang mencanangkan dirinya berada di jalur
dakwah menuju Dienullah. Fase tersebut ibarat gerbang yang harus dilewati
menuju pembentukan diri. Yakni membebaskan diri dari segala cela merupakan
gerbang menuju pribadi mulia, yang akan membentuk akhlak dan tutur kata yang
luhur.
Umar
bin Abdul Aziz rahimahullah pernah menulis surat kepada para gubernur di
seluruh wilayah kekuasaannya sebagai berikut:
"Jangan
sampai ada perkara yang lebih penting un-tuk kamu perhatikan selain perkara
dirimu! Sebab sekecil apapun dosa itu, tetap tidak pantas untuk
disepelekan."
Beliau
memandang bahwa seluruh dosa, yang besar maupun yang kecil, tetap menjadi beban
berat bagi diri. Pokoknya selama bumi masih berputar, Umar bin Abdul Aziz dan
kaum salaf lainnya senatiasa menjaga diri dari segala dosa-dosa, yang besar
maupun yang kecil. Se-orang penyair menitipkan pesan lewat sebuah syair:
Jauhkanlah dirimu dari segala dosa, yang besar mau-pun
yang kecil, itulah hakikat takwa.
Jalanilah kehidupan bagaikan orang yang me-nempuh jalan penuh onak dan duri, senantiasa berhati-hati dari bahaya yang dilihat.
Janganlah engkau remehkan dosa sekalipun kecil, bukankah gunung yang menjulang tinggi berasal dari kerikil-kerikil kecil yang terhampar?
Jalanilah kehidupan bagaikan orang yang me-nempuh jalan penuh onak dan duri, senantiasa berhati-hati dari bahaya yang dilihat.
Janganlah engkau remehkan dosa sekalipun kecil, bukankah gunung yang menjulang tinggi berasal dari kerikil-kerikil kecil yang terhampar?
Setiap
kali kita mengingat keadaan kaum salaf rahimahumullah, lalu kita
bandingkan dengan keadaan diri kita, semakin terkuaklah borok-borok diri. Kita
teringat ucapan Abdul Aziz bin Abi Rawwad rahimahullah, ia berkata:
"Setiap kali kita mengingat keadaan kaum salaf, maka akan kelihatan
kekurangan kita." Bagaimana pula jika dibandingkan dengan keadaan kita
yang hidup di zaman sekarang ini? Hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala semata
kita memohon pertolongan.
Dalam
buku yang sederhana ini kami akan menge-tengahkan kepada para pembaca beberapa
panah-panah yang dilepaskan setan dan bala tentaranya yang diperankan oleh
sebagian manusia, hingga mereka menjadi penyakit yang sering dikeluhkan
masyarakat./
PANAH
PERTAMA:
NILAI KETAATAN YANG MEMUDAR DAN MELEMAH
NILAI KETAATAN YANG MEMUDAR DAN MELEMAH
Seringkali
kita melihat seseorang sebut saja si Fulan yang meningkat nilai ketaatannya
kepada ajaran agama, namun begitu tidak kelihatan (menghilang) beberapa waktu
saja, tiba-tiba suatu hari kita dikejutkan dengan keadaan ketaatannya sudah
jauh menurun. Sebagai contoh, lihatlah keadaan kaum muslimin di awal bulan
Ramadhan (yang penuh dengan ibadah dan ketaat-an), kemudian bandingkan dengan keadaan
mereka be-berapa hari atau beberapa bulan setelah Ramadhan berlalu, kita akan
dapat melihat perbedaan yang amat mencolok.
Memudar
dan melemahnya nilai ketaatan adalah dengan meninggalkan ketaatan itu sendiri
atau tidak mempertahankan keutuhan nilai-nilai agama di dalam diri berupa
amal-amal shalih, akhirnya jatuh kepada perkara haram. Ada beberapa fenomena
yang dapat kita saksikan di tengah-tengah kaum muslimin berkaitan de-ngan
masalah ini, sebagai berikut:
1- Tidak Hati-hati Dalam Berbicara dan Berjanji
Banyak
sekali orang yang mengeluhkan masalah ini. Masih sering kita jumpai seseorang
yang membuat janji kepada saudaranya sesama muslim, namun ia tidak menaruh
perhatian terhadap janjinya itu, bahkan sering kali ia langgar atau terlambat
menepatinya. Lebih parah lagi kadang kala ia malah meniatkan melanggar
perjan-jian itu tanpa mempedulikan akibatnya dan tanpa mem-perhitungkan pahala
yang bakal diperoleh dari menepati janji. Lucunya terkadang ia malah menggerutu
bila janji-janji itu ditepati sambil mengolok: "Apakah kita harus berlagak
kebarat-baratan?" Apakah ia lupa atau pura-pura tidak tahu bahwa menepati
janji adalah salah satu keistimewaan kaum muslimin. Kalau tidak percaya,
silakan buka lembaran-lembaran sejarah dan biografi tokoh-tokoh Islam dalam hal
menepati janji. Perlu di-ketahui, ketika kaum muslimin meremehkan masalah ini,
musuh-musuh Islam justru mencaploknya. Sehingga sangat disayangkan bila mereka
mengambil intinya se-mentara kaum muslimin kebagian kulitnya saja.
2- Terburu-buru Dalam Memvonis Tanpa Cek dan Ricek (Tabayyun)
Terlebih Dahulu
Berapa
banyak kita jumpai orang-orang yang menim-bang dengan dua timbangan (tidak fair
dalam memvonis orang). Mereka membuat-buat tuduhan lalu menjatuhkan vonis
secara keji. Jika ditanya tentang alasannya, tanpa malu-malu mereka berkata:
"Begitulah dugaan saya!" "Kata orang demikian!" "Aku
dengar orang-orang berkata begitu!"
Bila
ditanya tentang seseorang, ia langsung mem-vonis "Ia seorang ahli
bid'ah!" atau yang lebih parah dari itu. Tanpa ragu ia memvonis fasik atau
memvonis kafir orang lain. Jika engkau tanya: "Siapakah orang yang memberi
tahu kamu hal ini, apa bukti kamu?" Ia akan terdiam seribu bahasa. Apakah
mereka lupa atau tidak tahu bahwa tabayyun termasuk manhaj (prinsip) Ahlus
Sunnah wal Jama'ah? Simaklah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala berikut ini:
"Hai orang-orang yang beriman, jika datang
kepada-mu orang fasik membawa suatu berita, maka perik-salah dengan teliti,
agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengeta-hui
keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (Al-Hujurat:
6)
Sungguh
sangat mengherankan bila musuh-musuh Islam dengan beragam tingkatannya dapat
terhindar dari kebenciannya sementara saudara-saudaranya seiman tidak dapat
terhindar dari itu?!
Sikap
mereka itu mengingatkan saya kepada sindiran salah seorang tokoh salaf ketika
mendapati seseorang mencela saudaranya seiman. Ia katakan kepada orang yang
mencela itu: "Apakah engkau pernah memerangi pasukan Romawi?"
"Belum!" jawabnya. "Apakah engkau pernah berperang melawan
tentara Parsi?" tanya beliau lagi. "Belum!" jawabnya. Beliau
lantas berkata: "Subha-nallah, musuh-musuh Allah dapat terhindar
dari ganggu-anmu sementara saudaramu seiman tidak!?" Lalu beliau
membacakan ayat:
"Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada
Allah dan memohon ampun kepada-Nya." (Al-Maidah: 74)
Tidakkah
mereka mengetahui bahwa setiap muslim akan dimintai pertanggungjawaban atas
seluruh ucapan-nya?
Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan
melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (Qaaf: 18)
3. Berlaku Aniaya Dalam Pertengkaran dan Tidak Memperhatikan
Etika Dalam Berbeda Pendapat
Sebagian
orang ada yang begitu tertambat hatinya dengan sebuah pendapat. Kadangkala ia
menetapkan wala' dan bara' atas dasar pendapat tersebut.
Konsepnya me-ngatakan: "Jika kamu tidak bersamaku, maka engkau adalah
musuhku!" Oleh sebab itu ia tidak mau berge-ming dari pendapat itu
meskipun sejengkal, atau paling tidak mengatakan bahwa pendapatnya itu mungkin
salah! Kadangkala ia mencampuri masalah niat dan menebak-nebak isi hati orang
lain. Terkadang ia juga mendikte dengan apa yang sebenarnya tidak diyakini oleh
seterunya itu, atau dengan cara-cara keji lainnya.
4. Mendengarkan Isu dan Kabar Dusta
Sekarang
ini banyak kita temui orang yang suka mendengar kiri kanan, suka mendengar
isu-isu dari setiap orang. Kemudian ia menyebarkan seluruh yang didengarkannya
tanpa rasa takut dan bersalah. Kadang-kala sebuah berita dusta yang bersifat
adu domba disampaikan kepada seseorang, lalu ia sebarkan berita itu seolah-olah
sebuah kebenaran yang nyata. Realita yang sering kita temui pada hari ini cukup
sebagai buk-tinya.
5. Pilah-pilih Amal Ketaatan
Yaitu
memilih amalan-amalan ketaatan yang sesuai dengan dorongan hawa nafsunya saja.
Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Orang yang bijaksana adalah yang mengoreksi dirinya dan segera beramal sebagai bekal untuk hari Akhirat. Dan orang yang lemah adalah yang selalu memperturutkan hawa nafsu, di samping itu ia mengharapkan berbagai angan-angan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala." (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)
"Orang yang bijaksana adalah yang mengoreksi dirinya dan segera beramal sebagai bekal untuk hari Akhirat. Dan orang yang lemah adalah yang selalu memperturutkan hawa nafsu, di samping itu ia mengharapkan berbagai angan-angan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala." (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)
Oleh
sebab itu pula, sebagian orang hanya meng-ikuti kebenaran yang sejalan dengan
hawa nafsunya. Kalau tidak sejalan, maka ia akan menoleh ke kiri dan ke kanan
mencari tempat bersandar. Sebagian ulama salaf ada yang berkata: "Hawa
nafsu dapat menjadi ilah yang disembah-sembah. Kemudian ia membaca ayat:
"Maka pernahkah kamu melihat orang yang
menja-dikan hawa nafsunya sebagai ilahnya." (Al-Jatsiyah: 23)
6. Menelantarkan Urusan Keluarga
Tidak
memperhatikan pertumbuhan keluarga dan anak-anak sampai kepada kondisi yang
diharapkan. Seringkali kita temui orang-orang yang sibuk dengan karirnya,
sementara keluarga dan anak-anaknya tengge-lam dalam perbuatan dosa. Namun
meskipun demikian, hatinya tidak tergerak untuk merubahnya. Dengan dingin ia
berkata: "Ah sudahlah! Yang penting tidak mengganggu karirku."
Kadangkala ia memergoki dengan mata kepalanya sendiri kemungkaran itu, tetapi
ia diam seribu bahasa. Begitulah akibatnya jika sudah terlalu banyak berbuat
dosa, kesadaran pun sulit tergugah.
7. Tidak Teguh Dalam Menghadapi Problematika Kehidupan, Cobaan
dan Musibah
Gemerlap
kehidupan dunia kerapkali menyesatkan banyak manusia. Sedikit demi sedikit ia
terseret ke dalam perbuatan haram. Tidak syak lagi, gemerlap dunia itu sangat
kuat pengaruhnya dalam menurunkan nilai ketaatan seseorang, atau bahkan dapat
menghilangkan nilai ketaatan itu dalam dirinya.
Tidakkah
engkau lihat, seseorang yang keluar dari rumahnya demi mencari sesuap nasi,
berbagai usaha pun dicobanya. Namun akhirnya ia terjerumus dalam praktek riba,
hingga jadilah ia orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya.
Contoh
lainnya, seorang yang bergelimang berbagai kasus penipuan dalam usahanya. Dan
masih banyak lagi perkara lain yang merupakan bentuk-bentuk melemahnya nilai
ketaatan.
8. Mengabaikan Hak-hak Persaudaraan
Sudah
barang tentu, disana ada beberapa hak yang wajib ditunaikan oleh seorang muslim
kepada saudara-nya seiman. Hal itu sudah disebutkan Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam dalam hadits-hadits beliau. Terkadang seseorang mengabaikan hak-hak
tersebut, seakan-akan hak-hak persaudaran itu semata-mata ada jika
menguntungkannya saja. Sering kita temui sebagian orang yang melihat saudaranya
me-lakukan perbuatan maksiat dan dosa, namun ia bersikap acuh tak acuh saja.
Atau ada seorang saudaranya seiman yang meminta nasihat dan pengarahan darinya,
atau meminta bantuannya untuk menghilangkan kesulitan, atau
kepentingan-kepentingan lainnya, namun ia tidak merespon hal itu sedikitpun,
apalagi membantu melepas-kan saudaranya itu dari kesulitan! Tentu saja sikap
semacam ini dapat mencederai nilai ketaatan.
Realita
di atas sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, hal itu dapat kita
jadikan barometer dalam mengukur nilai ketaatan yang ada di dalam diri. Semakin
banyak hak persaudaraan yang kita abaikan, semakin lemah pula nilai ketaatan
kita.
Faktor-faktor Penyebab Melemah dan Memudarnya Nilai Ketaatan
1.
Godaan-godaan Setan Terhadap Umat Manusia
Hendaknya
masing-masing orang menyadari bahwa selama hayat dikandung badan ia senantiasa
berada dalam kancah peperangan melawan setan. Setiap jalan-jalan kebaikan yang
ditempuhnya, ia pasti berhadapan dengan setan yang siap menghadang. Simaklah
hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berikut ini:

"Sesungguhnya setan senantiasa siap menghadang bani Adam dalam setiap langkah yang ditempuh-nya. Bila ia menempuh jalan Islam, maka setan akan menggoda seraya berkata: 'Apakah engkau sudi meninggalkan ajaran nenek moyangmu dengan menempuh jalan Islam?' Namun seorang hamba Allah sejati tidak akan menghiraukan godaan itu dan tetap menempuh jalan Islam. Bila ia menempuh jalan hijrah, maka setan akan datang menggoda seraya berkata: 'Apakah engkau sudi meninggalkan kampung halaman tercinta dengan nekad berhijrah?' Namun ia pun tidak menghiraukan godaan itu dan tetap berhijrah. Bila ia menempuh jalur jihad, maka setan akan datang menggoda seraya berkata: 'Jika engkau masih membandel tetap ikut berjihad, niscaya engkau akan terbunuh, istrimu akan dinikahi orang dan hartamu akan dibagi-bagikan! Namun ia menepis godaan itu dan tetap pergi berjihad." (HR. An-Nasaai dan Ahmad dalam musnadnya dari Sabrah bin Abi Fakih radhiyallahu 'anhu secara marfu')
Ketahuilah
bahwa kancah peperangan ini sangat berat dan melelahkan, ditebarkan oleh setan
dan bala tentaranya di mana-mana. Maka hendaklah kita benar-benar siap
menghadapinya. Setan, hawa nafsu, angkara murka dan godaan dunia siap menjerat
setiap saat.
Seorang
penyair menuturkan:
Sungguh, diriku dihujam dengan empat anak panah,
yang tiada henti-henti melesat dari busurnya meng-hujam diriku.
Yaitu iblis, dunia, ambisi diri dan hawa nafsu.
Wahai Rabbku, hanya Engkau jualah yang kuasa menyelamatkan diriku.
yang tiada henti-henti melesat dari busurnya meng-hujam diriku.
Yaitu iblis, dunia, ambisi diri dan hawa nafsu.
Wahai Rabbku, hanya Engkau jualah yang kuasa menyelamatkan diriku.
Oleh
karena itu, sudah seyogyanya kita selalu waspada terhadap segala tipu daya
setan. Bukankah Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:
"Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu
gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah." (Fushshilat:
36)
Sadarilah
bahwa pada detik ini kamu tengah berperang melawan setan, janganlah sampai
engkau dipecundanginya. Hati-hatilah terhadap tipu daya setan, janganlah sampai
mengicuh dirimu. Sesungguhnya tipu daya setan itu sangat lemah wahai saudaraku!
Dengarlah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala berikut ini:
"Oleh sebab itu, perangilah kawan-kawan
syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah." (An-Nisa':
76)
2. Kurang Memahami dan Mengetahui Urgensi Menjaga Nilai Ketaatan
Sering
kita temui sebagian orang yang melakukan berbagai bentuk perbuatan dosa dan
maksiat. Namun lucunya ia masih mengaku-aku sebagai seorang multa-zim (orang
yang menjaga nilai ketaatan). Ia sebenarnya tidak memahami dan tidak mengerti
hakikat iltizam (menjaga nilai ketaatan). Sebab hakikat iltizam
adalah melaksanakan amalan-amalan ketaatan dan menjauhi perkara yang
diharamkan. Oleh sebab itu pula sering kita mendengar selentingan pertanyaan
dalam momen-momen tertentu seperti ceramah, pengajian dll yang berbunyi:
"Saya adalah seorang pemuda 'baik-baik', selalu mengerjakan shalat
lima waktu, berpuasa bulan Ramadhan, menunaikan ibadah haji, namun aku masih
suka mendengarkan musik, atau aku masih suka melabuhkan kain sampai di bawah
mata kaki (isbal), atau aku masih suka melihat perkara yang diharamkan
untuk dilihat, atau perbuatan dosa lainnya. Bagaimana menurut Anda wahai
saudaraku? Seolah-olah sikonnya berkata: "Jika air sudah mencapai dua qullah,
niscaya tidak akan menjadi najis karena kotoran, yaitu selama aku dalam keadaan
demikian, aku tetap tergolong orang 'baik-baik', meskipun dosa dan
maksiat itu selalu kulakukan.
Sekali-kali
tidak! Engkau tetap tertuntut untuk meninggalkan perbuatan dosa itu, engkau
harus menjauhkan diri dari dosa-dosa itu sejauh-jauhnya. Dan hendaknya engkau
memasang tekad yang kuat untuk itu, mintalah pertolongan kepada Allah Subhanahu
wa Ta'ala dan jangan mudah menyerah!
Seorang
pemudi mengadukan halnya: "Aku adalah seorang gadis 'baik-baik'
, namun aku masih sering ber-khalwat dengan sopir pribadiku di dalam mobil atau
dalam rumah." Bagaimanakah pendapat Anda tentang masalah ini?
Saya
tandaskan bahwa perbuatan seperti itu jelas melanggar rambu syariat. Sedangkan iltizam
yang hakiki mengharuskannya untuk meninggalkan pelanggaran-pelanggaran syariat
semacam itu.
3. Lingkungan yang Jauh dari Nilai-nilai Ketaatan
Kadangkala
seseorang yang iltizam tumbuh di tengah-tengah lingkungan yang jauh dari
nilai-nilai ketaatan. Kadangkala ia hanya bisa diam melihat dosa dan maksiat
yang ada di sekitarnya, lebih parah lagi terkadang ia terpengaruh dengan dosa
dan maksiat itu. Sebagaimana yang disebutkan dalam pepatah ' alah bisa
karena biasa', jika sudah terlalu sering menyaksikan perbuatan dosa,
akhirnya terpengaruh juga.
Maksudnya
bukan secara seporadis merubah pelanggaran-pelanggaran syariat yang dilihatnya
di dalam rumah. Sebab cara seperti itu akan membuahkan hasil yang mengecewakan.
Beberapa pemuda semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala mencurahkan taufik kepadanya
dan kepada kita semua- terlalu terburu-buru dalam bertindak, begitu ia mendapat
hidayah, langsung saja ia datangi keluarganya seraya menyeru: "Kalian
semua tahu atau tidak bahwa perkara ini dan ini haram tidak boleh
dilakukan!"
Dengan
enteng keluarganya menjawab sebagaimana yang dilantunkan seorang penyair:
Kalian katakan ini dan itu tidak boleh kami laku-kan.
Siapakah kalian, hingga kalian bisa berkata ini dan itu!
Siapakah kalian, hingga kalian bisa berkata ini dan itu!
"Bukankah
kamu seorang anak kecil baru lahir kemarin, masih bau kencur? kok tiba-tiba
saja menjadi mufti di dalam rumah, tunggu dulu janganlah tergesa-gesa!"
demikian sindir keluarganya.
Menurut
hemat saya masalahnya tidak akan selesai dengan mengunci mulut tidak bereaksi,
dan tidak pula dengan cara seporadis seperti itu. Sebagian orang berang-gapan
bahwa solusinya adalah dengan meninggalkan rumah (minggat), tentu saja ini
merupakan cara yang keliru, sebab minggat dari rumah tidak akan menyelesai-kan
masalah (bahkan akan menambah masalah). Beda halnya jika dengan meninggalkan
rumah, kondisi akan berubah menjadi lebih baik. Namun biasanya cara seperti itu
justru akan menambah berat jalan cerita.
Apabila
engkau melihat sebuah kemungkaran (khu-susnya di dalam rumah sendiri), maka
siapkanlah senjata pamungkas yang membuat mereka tidak bisa berkutik, tidak
bisa berdalih ini dan itu. Hendaklah engkau menyi-apkan petuah alim ulama yang
terpandang mengenai bahaya kemungkaran itu. Atau dapat juga engkau siapkan
fatwa ulama, kitab agama, kaset ceramah, buletin-buletin dan lain sebagainya.
Kemudian engkau persilakan mereka sendiri yang mendengar dan mem-bacanya. Sebab
terkadang mereka belum menemukan cara yang tepat untuk meninggalkan perbuatan
mungkar itu. Banyak pemuda yang terhimpit problematika seperti ini, dengan
menerapkan cara di atas banyak membuah-kan hasil-hasil positif yang
menggembirakan. Walham-dulillah
4. Musibah dan Cobaan
Berapa
banyak orang yang berubah jalur hidupnya akibat musibah dan cobaan yang
menimpa. Terkadang musibah dan cobaan itu datang dari orang lain atau karena
akibat tingkahnya sendiri. Muslim yang sejati adalah yang bertambah ketaatannya
setiap musibah dan cobaan datang menerpa. Adakah musibah dan cobaan yang lebih
besar dari yang diterima Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan
sahabat-sahabat beliau? Coba buka kembali sejarah peperangan Ahzab! Simaklah
firman Allah Subhanahu wa Ta'ala berikut ini yang menggambarkan betapa berat
cobaan yang dialami mereka, sehingga sulit diungkapkan dengan kata-kata;
"(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari
atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu
naik menyesak sam-pai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan
bermacam-macam purbasangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan
digoncang-kan (hatinya) dengan goncangan yang sangat." (Al-Ahzab:
10-11)
Coba
bayangkan bagaimana keadaan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keti-ka itu,
hamba yang paling mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala, apakah dengan cobaan
yang demikian nilai ketaatan mereka merosot? Apakah pupus iman mereka kepada
Allah? Ma'adzallah sekali-kali tidak! namun kita ucapkan seba-gaimana
yang diucapkan hamba-hamba yang beriman.
"Dan tatkala orang-orang mu'min melihat
golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata:"Inilah yang
dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita". Dan benarlah Allah dan
Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman
dan ketundukan." (QS. Al-Ahzab: 22)
5. Terlalu Banyak Beban Kehidupan yang Dipikul dan Terlalu Berat
Serta Panjang
Perjalanan yang Dilalui
Perjalanan yang Dilalui
Terus
terang saya katakan bahwa sebagian orang ada yang membebankan dirinya di luar
kapasitas normal, hingga ia sendiri tidak sanggup memikulnya. Kadang ia lupa
bahwa perjalanannya masih panjang. Kita dapati ia mencampuri dan menggeluti
hampir semua bidang. Sibuk mengurus ini dan itu. Sampai-sampai ia mengabai-kan
perkara-perkara wajib.
Tidakkah
pernah engkau jumpai seorang yang punya ambisi besar, setiap celah yang bisa
dimanfaatkan, pasti dimasukinya! Namun begitu selesai dari segala aktifitasnya
itu, staminanya menurun, akhirnya terkapar tiada berdaya, tenggelam dalam tidur
yang pulas. Terka-dang ia melalaikan kewajiban-kewajibannya. Padahal yang
dituntut adalah menyucikan jiwa dengan berbuat taat. Lebih parah lagi,
terkadang ia melalaikan shalat fajar, tentu saja ia juga melalaikan doa-doa
sebelum tidur.
Hendaklah
kita beramal sesuai dengan kemampuan yang ada. Ikutilah petunjuk Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam berikut ini:
"Amal yang paling dicintai Allah adalah yang ber-kesinambungan meskipun sedikit." (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa'i, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad)
6. Pengaruh Orang Tua
Pengaruh
orang tua sangat besar terhadap pertum-buhan anak-anaknya. Mereka dapat menjadi
salah satu faktor penyebab menurunnya nilai ketaatan. Apalagi jika si ayah jauh
dari tuntunan agama. Kadangkala seorang anak tumbuh di atas bimbingan agama
yang baik, ia menampik perkara-perkara yang dilarang agama. Namun sayangnya si
ayah berusaha menghalanginya. Si ayah menyediakan segala fasilitas untuk
memperdaya anaknya itu, tentu saja lambat laun si anak akan terpengaruh hingga
melemahlah nilai ketaatannya.
7. Tidak Ada Kontrol dan Motivasi dari Orang Lain
Sering
kali kita keluhkan tidak adanya waskat (pengawasan melekat) antara sesama
pemuda ketika gejala-gejala penyakit ini muncul (maksudnya penyakit melemahnya
gairah beramal). Berapa banyak orang yang bertekad untuk bertaubat kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala, namun sangat sedikit yang mau peduli dengan kesungguhannya
itu. Kontrol dan suntikan motivasi ini sangat urgen, sebab seorang pemuda
biasanya memiliki masa lalu yang selalu diingatnya. Jika terbayang kembali masa
lalunya itu, setan akan segera menggodanya untuk kembali seperti yang dulu.
Kemudian datanglah bala tentara setan yang diperankan manusia-manusia iblis,
menakut-nakutinya dengan bayangan masa lalunya itu. Bahkan terkadang
mengancamnya bila ia tidak seperti yang dulu, mereka akan membongkar boroknya
di hadapan orang banyak! Pada saat-saat seperti itu, ia tidak menemukan orang
shalih dan istiqamah yang memberikan motivasi kepadanya. Sehingga ia
terpengaruh bisikan bala tentara iblis tadi, akhirnya ia kembali kepada masa
lalunya yang kelam.
Kadang
kala mereka menyeretnya ke dalam kemu-nafikan, dengan membisikkan ke
telinganya: "Tetaplah engkau seperti ini secara lahir. Dan secara batin
engkau dengan perbuatanmu seperti itu sehingga engkau pasti bersama orang-orang
jahat juga nantinya!"
Seringkali
kita temui cara yang kurang tepat, yaitu nasihat pertama yang kita sampaikan
kepada mereka adalah: "Hati-hati dengan si 'Fulan', jangan sekali-kali
kamu mendekatinya! Menurut pandangan saya, cara seperti ini tidak akan
menyelesaikan masalah. Bahkan secara tidak disadari kita telah membantu setan
untuk menyesatkan si 'Fulan' itu. Jarang sekali kita temui nasihat yang
berbunyi: "Wahai saudaraku, hendaklah engkau menemani si Fulan dan
membimbingnya."
Seorang
teman saya pada suatu hari mengadu bahwa ia baru saja keluar dari penjara, dan
ia telah bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dengan tegas ia katakan:
"Apakah ada seorang teman yang shalih yang sudi membimbingku? Apakah ada
pendamping yang shalih yang bersedia duduk bersamaku? Saya menjawab:
"Tentu saja ada!" Namun dengan memelas ia berkata: "Akan tetapi
mereka semuanya menjauh dariku!"
Jika
kita biarkan dia begitu saja, berarti kita mem-biarkan dia menjadi mangsa setan
dan menjadi bala tentaranya. Jika Allah Subhanahu wa Ta'ala menyukai
orang-orang yang bertaubat, mengapakah kita tidak menyukai mereka? Bukankah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda:
"Demi Allah, sesungguhnya Allah sangat senang dengan taubat hamba-Nya melebihi senangnya sese-orang di antara kamu yang menemukan kembali ontanya yang hilang di padang luas." (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas'ud dan Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu)
Jika
kita memang menyukai orang-orang yang bertau-bat, mengapakah kita tidak
membimbing mereka kepada jalan kebenaran dan hidayah serta ketaatan? Sudah
selayaknya kita menuntun mereka untuk berbuat taat.
Tentunya
kita semua pernah mendengar kisah seorang yang telah membunuh sembilan puluh
sembilan jiwa, kemudian bertanya di manakah orang yang paling alim di muka
bumi? Ia pun ditunjukkan kepada seorang rahib (pendeta). Ia pun bertanya kepada
pendeta itu, apakah masih terbuka pintu taubat baginya, sementara ia telah
membunuh sembilan puluh sembilan jiwa? Pendeta itu menjawab: "Tidak!"
Maka ia pun membunuh pendeta itu sehingga genaplah seratus jiwa yang telah
dibunuhnya. Lalu ia bertanya lagi, di manakah orang yang paling alim di muka
bumi? Ia pun ditunjukkan kepada seorang ulama. Ia bertanya kepada ulama itu,
apakah masih terbuka pintu taubat baginya, sementara ia telah membunuh seratus
jiwa? Ulama itu menjawab: "Ya, siapakah yang menghalangimu dari pintu
taubat?" Ulama itu telah memberikan lampu hijau kepadanya untuk menorehkan
lembaran baru dalam hidupnya. Ulama itu berkata: "Pergilah engkau ke
negeri A, di sana terdapat orang-orang shalih yang senantiasa mengesakan Allah
shallallahu 'alaihi wasallam dalam beribadah, ikutilah mereka!" (HR.
Al-Bukhari dan Muslim)
Sekiranya
orang itu menolak pergi ke negeri A tersebut, maka tidak ada pilihan baginya
kecuali kembali kepada lingkungannya yang rusak. Namun takdir Allah shallallahu
'alaihi wasallam menentukan lain, orang itu mati di tengah perjalanan menuju ke
sana.
Oleh
sebab itu wahai saudaraku, apabila datang seorang yang benar-benar ingin
bertaubat, hendaklah kita bergembira dengan taubatnya itu. Namun masih saja ada
yang mencibir: "Taubatnya belum seratus persen!" Kepada mereka saya
katakan: "Wahai saudara-ku, barangkali ia masih khawatir atau takut kepada
sebagian orang!" Atau masih saja ada yang mencemooh: "Ia baru kemarin
meninggalkan alam maksiat, aku khawatir ia masih menyimpan sesuatu!" Dan
masih ba-nyak lagi komentar-komentar lainnya, seperti: "Jangan-jangan ia
nanti mengambil hartaku lalu minggat!" Apakah ini yang kau inginkan?!
Sikap
seperti itu bersumber dari piciknya pan-dangan. Yaitu ketika pertama kali
engkau berkenalan dengan seseorang langsung saja engkau tumpahkan segala
uneg-unegmu kepadanya. Tahan dulu, jangan terburu-buru! Sebab bukan seperti itu
caranya, akan tetapi hendaklah engkau teguhkan ia di atas ketaatan terlebih
dulu, engkau luruskan dan engkau tuntun tangannya hingga timbul kepercayaan
dirinya dan setelah itu ia dapat kembali ke daerahnya sebagai da'i kepada agama
Allahsh shallallahu 'alaihi wasallam ./
PANAH
KEDUA:
PENYAKIT UJUB TERHADAP DIRI SENDIRI DAN AMAL
PENYAKIT UJUB TERHADAP DIRI SENDIRI DAN AMAL
Salah
seorang ulama salaf pernah berkata: "Seorang yang ujub akan tertimpa dua
kehinaan, akan terbongkar kesalahan-kesalahannya dan akan jatuh martabatnya di
mata manusia."
Salah
seorang ahli hikmah berkata: "Ada seorang yang terkena penyakit ujub,
akhirnya ia tergelincir dalam kesalahan karena saking ujubnya terhadap diri
sendiri. Ada sebuah pelajaran yang dapat kita ambil dari orang itu, ketika ia
berusaha jual mahal dengan kemampuan dirinya, maka Imam Syafi'i pun
memban-tahnya seraya berseru di hadapan khalayak ramai: "Barangsiapa yang
mengangkat-angkat diri sendiri seca-ra berlebihan, niscaya Allah Subhanahu wa
Ta'ala akan menjatuhkan mar-tabatnya."
Defenisi Ujub
Orang
yang terkena penyakit ujub akan meman-dang remeh dosa-dosa yang dilakukannya
dan mengang-gapnya bagai angin lalu. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah
mengabarkan kepada kita dalam sebuah hadits:

"Orang yang jahat akan melihat dosa-dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya, dengan santai dapat diusirnya hanya dengan mengibaskan tangan. Adapun seorang mukmin melihat dosa-dosanya bagaikan duduk di bawah kaki gunung yang siap menimpanya." (HR. Al-Bukhari)
Bisyr
Al-Hafi mendefenisikan ujub sebagai berikut: "Yaitu menganggap hanya
amalanmu saja yang banyak dan memandang remeh amalan orang lain."
Barangkali
gejala paling dominan yang tampak pada orang yang terkena penyakit ujub adalah
sikap suka melanggar hak dan menyepelekan orang lain. Sufyan Ats-Tsauri
rahimahullah meringkas defenisi ujub sebagai berikut: "Yaitu perasaan
takjub terhadap diri sendiri hingga seolah-olah dirinyalah yang paling utama
daripada yang lain. Padahal boleh jadi ia tidak dapat beramal sebagus amal saudaranya
itu dan boleh jadi saudaranya itu lebih wara' dari perkara haram dan lebih suci
jiwanya ketimbang dirinya!"
Al-Fudhail
bin Iyadh rahimahullah berkata: "Iblis jika ia dapat melumpuhkan bani Adam
dengan salah satu dari tiga perkara ini: ujub terhadap diri sendiri, menganggap
amalnya sudah banyak dan lupa terhadap dosa-dosanya. Dia berkata: "Saya
tidak akan mencari cara lain." Semua perkara di atas adalah sumber
kebinasaan. Berapa banyak lentera yang padam karena tiupan angin? Berapa banyak
ibadah yang rusak karena penyakit ujub? Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan
bahwa seorang lelaki berkata: "Allah tidak akan mengampuni si Fulan! Maka
Allah Subhanahu wa Ta'ala pun berkata:
"Siapakah yang lancang bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak mengampuni Fulan?! Sungguh Aku telah mengampuninya dan menghapus amalan-mu!" (HR. Muslim)
Amal
shalih itu ibarat sinar dan cahaya yang terka-dang padam bila dihembus angin
ujub!
Sebab-Sebab Ujub
1. Faktor Lingkungan dan Keturunan
Yaitu
keluarga dan lingkungan tempat seseorang itu tumbuh. Seorang insan biasanya
tumbuh sesuai dengan polesan tangan kedua orang tuanya. Ia akan menyerap
kebiasaan-kebiasaan keduanya atau salah satunya yang positif maupun negatif,
seperti sikap senang dipuji, selalu menganggap diri suci dll.
2. Sanjungan dan Pujian yang Berlebihan
Sanjungan
berlebihan tanpa memperhatikan etika agama dapat diidentikkan dengan
penyembelihan, seba-gaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits. Sering kita
temui sebagian orang yang terlalu berlebihan dalam memuji hingga seringkali
membuat yang dipuji lupa diri. Masalah ini akan kami bahas lebih lanjut pada
bab berikut.
3. Bergaul Dengan Orang yang Terkena Penyakit Ujub
Tidak
syak lagi bahwa setiap orang akan melatahi tingkah laku temannya. Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam sendiri bersabda:
"Perumpamaan teman yang shalih dan teman yang jahat adalah seperti orang yang berteman dengan penjual minyak wangi dan pandai besi." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Teman
akan membawa pengaruh yang besar dalam kehidupan seseorang.
4. Kufur Nikmat dan Lupa Kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala
Begitu
banyak nikmat yang diterima seorang hamba, tetapi ia lupa kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberinya nikmat itu. Sehingga hal itu
menggiringnya kepada penyakit ujub, ia membanggakan dirinya yang sebenarnya
tidak pantas untuk dibanggakan. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menceritakan
kepada kita kisah Qarun;
"Qarun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi
harta itu, karena ilmu yang ada padaku". (Al-Qashash: 78)
5. Menangani Suatu Pekerjaan Sebelum Matang Dalam Menguasainya
dan
Belum Terbina Dengan Sempurna
Belum Terbina Dengan Sempurna
Demi
Allah, pada hari ini kita banyak mengeluhkan problematika ini, yang telah
banyak menimbulkan berbagai pelanggaran. Sekarang ini banyak kita temui
orang-orang yang berlagak pintar persis seperti kata pepatah 'sudah dipetik
sebelum matang'. Berapa banyak orang yang menjadi korban dalam hal ini! Dan itu
termasuk perbuatan sia-sia. Yang lebih parah lagi adalah seorang yang mencuat
sebagai seorang ulama padahal ia tidak memiliki ilmu sama sekali. Lalu ia
berkomentar tentang banyak permasalahan, yang terkadang ia sendiri jahil
tentang hal itu. Namun ironinya terkadang kita turut menyokong hal seperti ini.
Yaitu dengan memperkenalkannya kepada khalayak umum. Padahal sekarang ini,
masyarakat umum itu ibaratnya seperti orang yang menganggap emas seluruh yang
berwarna kuning. Kadangkala mereka melihat seorang qari yang merdu bacaannya,
atau seorang sastrawan yang lihai berpuisi atau yang lainnya, lalu secara
membabi buta mereka mengambil segala sesuatu dari orang itu tanpa terkecuali
meskipun orang itu mengelak seraya berkata: "Aku tidak tahu!"
Perlu
diketahui bahwa bermain-main dengan sebuah pemikiran lebih berbahaya daripada
bermain-main dengan api. Misalnya beberapa orang yang berse-pakat untuk
memunculkan salah satu di antara mereka menjadi tokoh yang terpandang di
tengah-tengah kaumnya, kemudian mengadakan acara penobatannya dan membuat-buat
gelar yang tiada terpikul oleh siapa pun. Niscaya pada suatu hari akan
tersingkap kebobrok-annya. Mengapa!? Sebab perbuatan seperti itu berarti
bermain-main dengan pemikiran. Sepintas lalu apa yang mereka ucapkan mungkin
benar, namun lambat laun masyarakat akan tahu bahwa mereka telah tertipu!
6. Jahil dan Mengabaikan Hakikat Diri (Lupa Daratan)
Sekiranya
seorang insan benar-benar merenungi dirinya, asal-muasal penciptaannya sampai
tumbuh men-jadi manusia sempurna, niscaya ia tidak akan terkena penyakit ujub.
Ia pasti meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar dihindarkan dari
penyakit ujub sejauh-jauhnya. Salah seorang penyair bertutur dalam sebuah syair
yang dituju-kan kepada orang-orang yang terbelenggu penyakit ujub:
Hai orang yang pongah dalam keangkuhannya.
Lihatlah tempat buang airmu, sebab kotoran itu selalu hina.
Sekiranya manusia merenungkan apa yang ada dalam perut mereka, niscaya tidak ada satupun orang yang akan menyombongkan dirinya, baik pemuda maupun orang tua.
Apakah ada anggota tubuh yang lebih dimuliakan selain kepala?
Namun demikian, lima macam kotoranlah yang keluar darinya!
Hidung beringus sementara telinga baunya tengik.
Tahi mata berselemak sementara dari mulut mengalir air liur.
Hai bani Adam yang berasal dari tanah, dan bakal dilahap tanah,tahanlah dirimu (dari kesombongan), karena engkau bakal menjadi santapan kelak.
Lihatlah tempat buang airmu, sebab kotoran itu selalu hina.
Sekiranya manusia merenungkan apa yang ada dalam perut mereka, niscaya tidak ada satupun orang yang akan menyombongkan dirinya, baik pemuda maupun orang tua.
Apakah ada anggota tubuh yang lebih dimuliakan selain kepala?
Namun demikian, lima macam kotoranlah yang keluar darinya!
Hidung beringus sementara telinga baunya tengik.
Tahi mata berselemak sementara dari mulut mengalir air liur.
Hai bani Adam yang berasal dari tanah, dan bakal dilahap tanah,tahanlah dirimu (dari kesombongan), karena engkau bakal menjadi santapan kelak.
Penyair
ini mengingatkan kita pada asal muasal penciptaan manusia dan keadaan diri
mereka serta kesu-dahan hidup mereka. Maka apakah yang mendorong mereka
berlagak sombong? Pada awalnya ia berasal dari setetes mani hina, kemudian akan
menjadi bangkai yang kotor sedangkan semasa hidupnya ke sana ke mari membawa
kotoran.
7. Berbangga-bangga Dengan Nasab dan Keturunan
Seorang
insan terkadang memandang mulia diri-nya karena darah biru yang mengalir di
tubuhnya. Ia menganggap dirinya lebih utama dari si Fulan dan Fulan. Ia tidak
mau mendatangi si Fulan sekalipun ber-kepentingan. Dan tidak mau mendengarkan
ucapan si Fulan. Tidak syak lagi, ini merupakan penyebab utama datangnya
penyakit ujub.
Dalam
sebuah kisah pada zaman kekhalifahan Umar radhiyallahu 'anhu disebutkan bahwa
ketika Jabalah bin Al-Aiham memeluk Islam, ia mengunjungi Baitullah Al-Haram.
Sewaktu tengah melakukan thawaf, tanpa sengaja se-orang Arab badui menginjak
kainnya. Tatkala mengetahui seorang Arab badui telah menginjak kainnya, Jabalah
langsung melayangkan tangannya memukul si Arab badui tadi hingga terluka
hidungnya. Si Arab badui itu pun melapor kepada Umar radhiyallahu 'anhu
mengadukan tindakan Jabalah tadi. Umar radhiyallahu 'anhu pun memanggil Jabalah
lalu ber-kata kepadanya: "Engkau harus diqishash wahai Jabalah!"
Jabalah membalas: "Apakah engkau menjatuhkan hukum qishash atasku? Aku ini
seorang bangsawan se-dangkan ia (Arab badui) orang pasaran!" Umar
radhiyallahu 'anhu menjawab: "Islam telah menyamaratakan antara kalian
berdua di hadapan hukum!"
Tidakkah
engkau ketahui bahwa:
Islam telah meninggikan derajat Salman seorang pemuda
Parsi
Dan menghinakan kedudukan Abu Lahab ka-rena syirik yang dilakukannya.
Dan menghinakan kedudukan Abu Lahab ka-rena syirik yang dilakukannya.
Ketika
Jabalah tidak mendapatkan dalih untuk melepaskan diri dari hukuman, ia pun
berkata: "Berikan aku waktu untuk berpikir!" Ternyata Jabalah
melarikan diri pada malam hari. Diriwayatkan bahwa Jabalah ini akhirnya murtad
dari agama Islam, lalu ia menyesali perbuatannya itu. Wal 'iyadzubillah
8. Berlebih-lebihan Dalam Memuliakan dan Menghormati
Barangkali
inilah hikmahnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang
sahabat-sahabat beliau untuk berdiri menyambut beliau. Dalam sebuah hadits
riwayat Abu Dawud, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Barangsiapa yang suka agar orang-orang berdiri menyambutnya, maka bersiaplah dia untuk menempati tempatnya di Neraka." (HR. At-Tirmidzi, beliau katakan: hadits ini hasan)
Dalam
hadits lain Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Janganlah kamu berdiri menyambut seseorang seperti yang dilakukan orang Ajam (non Arab) sesama mereka." (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah dari Abu Umamah radhiyallahu 'anhu)
9. Lengah Terhadap Akibat yang Timbul dari Penyakit Ujub
Sekiranya
seorang insan menyadari bahwa ia hanya menuai dosa dari penyakit ujub yang
menjangkiti dirinya dan menyadari bahwa ujub itu adalah sebuah pelanggaran,
sedikitpun ia tidak akan kuasa bersikap ujub. Apalagi jika ia merenungi sabda
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

"Sesungguhnya seluruh orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari Kiamat bagaikan semut yang diinjak-injak manusia." Ada seseorang yang bertanya: "Wahai Rasulullah, bukankah seseorang itu ingin agar baju yang dikenakannya bagus, sandal yang dipakainya juga bagus?" Rasulullah menjawab: "Sesungguhnya Allah itu Maha Indah, dan menyukai keindahan, hakikat sombong itu ialah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain." (HR. Muslim dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, awal hadits berbunyi: "Tidak akan masuk Surga orang yang terdapat sebesar biji zarrah kesombongan dalam hatinya).

"Sesungguhnya seluruh orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari Kiamat bagaikan semut yang diinjak-injak manusia." Ada seseorang yang bertanya: "Wahai Rasulullah, bukankah seseorang itu ingin agar baju yang dikenakannya bagus, sandal yang dipakainya juga bagus?" Rasulullah menjawab: "Sesungguhnya Allah itu Maha Indah, dan menyukai keindahan, hakikat sombong itu ialah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain." (HR. Muslim dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, awal hadits berbunyi: "Tidak akan masuk Surga orang yang terdapat sebesar biji zarrah kesombongan dalam hatinya).
Dampak ujub
1.
Jatuh dalam jerat-jerat kesombongan, sebab ujub merupakan pintu menuju
kesombongan.
2.
Dijauhkan dari pertolongan ilahi. Allah shallallahu 'alaihi wasallam berfirman:
"Orang-orang yang berjihad (untuk mencari keri-dhaan)
Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami." (Al-Ankabut:
69)
3.
Terpuruk dalam menghadapi berbagai krisis dan cobaan kehidupan.
Bila
cobaan dan musibah datang menerpa, orang-orang yang terjangkiti penyakit ujub
akan berteriak: 'Oii teman-teman, carilah keselamatan masing-masing!' Berbeda
halnya dengan orang-orang yang teguh di atas perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala
, mereka tidak akan melanggar rambu-rambu, sebagaimana yang dituturkan Ali bin
Abi Thalib radhiyallahu 'anhu.
Siapakah yang mampu lari dari hari kematian?
Bukankah hari kematian hari yang telah ditetap-kan?
Bila sesuatu yang belum ditetapkan, tentu aku dapat lari darinya.
Namun siapakah yang dapat menghindar dari takdir?
Bukankah hari kematian hari yang telah ditetap-kan?
Bila sesuatu yang belum ditetapkan, tentu aku dapat lari darinya.
Namun siapakah yang dapat menghindar dari takdir?
4.
Dibenci dan dijauhi orang-orang. Tentu saja, seseorang akan diperlakukan
sebagaimana ia memperla-kukan orang lain. Jika ia memperlakukan orang lain
dengan baik, niscaya orang lain akan membalas lebih baik kepadanya. Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Apabila kamu dihormati dengan suatu penghor-matan,
maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan
yang serupa)." (An-Nisa': 86)
Namun
seseorang kerap kali meremehkan orang lain, ia menganggap orang lain tidak ada
apa-apanya dibandingkan dirinya. Tentu saja tidak ada orang yang senang
kepadanya. Sebagaimana kata pepatah 'Jika engkau menyepelekan orang lain,
ingatlah! Orang lain juga akan menyepelekanmu'
5.
Azab dan pembalasan cepat ataupun lambat. Se-orang yang terkena penyakit ujub
pasti akan merasakan pembalasan atas sikapnya itu. Dalam sebuah hadits
dise-butkan:

"Ketika seorang lelaki berjalan dengan mengenakan pakaian yang necis, rambut tersisir rapi sehingga ia takjub pada dirinya sendiri, seketika Allah membenamkannya hingga ia terpuruk ke dasar bumi sampai hari Kiamat." (HR. Al-Bukhari)
Hukuman
ini dirasakannya di dunia akibat sifat ujub. Seandainya ia lolos dari hukuman
tersebut di du-nia, yang jelas amalnya pasti terhapus. Dalilnya adalah hadits
yang menceritakan tentang seorang yang bersumpah atas nama Allah bahwa si Fulan
tidak akan diampuni, ternyata Allah Subhanahu wa Ta'ala mengampuni si Fulan dan
menghapus amalnya sendiri.
Dengan
begitu kita harus berhati-hati dari sifat ujub ini, dan hendaknya kita
memberikan nasihat kepada orang-orang yang terkena penyakit ujub ini, yaitu
orang-orang yang menganggap hebat amal mereka dan menyepelekan amal orang
lain./
PANAH
KETIGA:
SANJUNGAN YANG MENGHANYUTKAN
SANJUNGAN YANG MENGHANYUTKAN
Imam
Ats-Tsauri menuturkan: "Apabila engkau bukan termasuk orang yang takjub
terhadap diri sendiri, hal lain yang perlu diingat ialah; hindarilah sifat
senang disanjung orang." Maksudnya bukan orang lain tidak boleh memuji
perbuatanmu itu, tetapi janganlah kamu meminta pujian dari orang lain.
Hendaknya engkau selalu berhubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala (dengan
selalu mengingatnya-pent). Dalam sebuah hadits disebutkan:

"Barangsiapa yang mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala, meskipun menimbulkan kemarahan manusia, niscaya Allah Subhanahu wa Ta'ala akan meridhainya dan akan membuat manusia ridha terhadapnya. Dan barangsiapa yang mencari kesenangan manusia, hingga membuat Allah murka maka Allah murka kepadanya dan membuat manusia murka terhadapnya." (HR. At-Tirmidzi).
Dan
dalam suatu riwayat: Dua orang yang memu-jinya akan balik mencelanya.
Ats-Tsauri
berkata: Dalam kategori ini: Engkau menginginkan mereka memuliakanmu dan senang
jika engkau mendapat kehormatan dan kedudukan di hati mereka. Menurut hemat
saya korban panah macam ini banyak sekali tapi mereka bermacam-macam bentuknya,
yang sebagian tidak begitu tampak karena sebagian orang memahami pujian hanya
dari satu sisi saja dan melupakan sisi yang lain, di antaranya juga ada yang
datang dari sisi senang dipuji oleh orang lain lewat perkataan. Dan banyak
orang ingin membaca kehebatan bola ghoh orang yang memujinya samapi-sampai ada
yang menunjukkan bahwa pujian-pujian itu adalah memang bukti nyata keadaan
orang yang dipujinya seolah-olah dia mengatakan seperti apa yang dikatakan
seorang laki-laki yang berdiri di depan Musailamah Alkadzab yang mengaku-aku
sebagai nabi, Musailamah berkata kepadanya: "Aku lebih tahu apa yang ada
dalam hatimu!" Orang itu berkata kepadanya: "Aku juga tahu apa yang
ada di dalam hatimu!" "Apa itu!" sergah Musailamah. Orang itu
menjawab: "Demi Allah, aku tahu sebenarnya engkau menyadari bahwa sesungguh-nya
aku mengetahui engkau adalah seorang pendusta!"
Oleh
sebab itu, hendaknya seseorang menyederhanakan bahasa dan tutur katanya. Jangan
sampai lisannya menjadi batu sandungan bagi dirinya, sebab dosa yang dituai
lisan pada umumnya dari hal semacam ini. Seandainya orang yang senang dipuji
selalu ingat (bahaya yang timbul dibalik pujian), niscaya ia menyadari bahwa
dialah yang paling mengetahui akan kelemahan dirinya sendirinya. Namun manusia
itu selalu lupa, mudah terpedaya dan suka berpaling dari nasihat orang lain
yang mengajarkan kepadanya etika pergaulan dan nilai-nilai agama. Seorang ahli
hikmah bertutur dalam syairnya:
Hai orang jahil yang terbuai dengan sanjungan
meng-hanyutkan
Kejahilan orang yang menyanjungmu jangan sampai menguasai kesadaranmu akan kadar dirimu
Pujian dan sanjungan itu ia ucapkan tanpa sepe-ngetahuannya tentang hakikat dirimu
Dirimulah yang lebih mengetahui tentang baik buruknya dirimu
Kejahilan orang yang menyanjungmu jangan sampai menguasai kesadaranmu akan kadar dirimu
Pujian dan sanjungan itu ia ucapkan tanpa sepe-ngetahuannya tentang hakikat dirimu
Dirimulah yang lebih mengetahui tentang baik buruknya dirimu
Sekiranya
kesadaran itu belum juga tumbuh, maka simaklah penuturan Al-Fudhail bin 'Iyadh
yang telah meletakkan kaidah untuk mengetahui kadar diri, beliau berkata:
"Di antara tanda-tanda orang munafik adalah senang dipuji atas sesuatu
yang tidak ada pada dirinya, benci celaan atas kejelekan yang ada pada dirinya,
dan marah terhadap orang yang mengoreksi kekurangan-nya."
Segeralah
introspeksi dirimu wahai saudaraku! Sekiranya seseorang datang secara pribadi
berkata: "Saya melihat kekuranganmu ini dan ini", apakah wajah-mu
lantas memerah lalu engkau memakinya, engkau tetap tidak bergeming dari
kekurangan itu! Bahkan mengomel sambil berkomat-kamit mengucapkan laa haula
wala quwwata illa billah!
Ataukah
engkau berkata: "Semoga Allah merahmati orang yang menunjukkan
kekuranganku"
Engkau
akan dapati orang tersebut menjadi korban sanjungan menghanyutkan itu.
Seandainya seseorang menyanjungnya, hatinya langsung berbunga-bunga,
girang-gembira dan tenggelam dalam khayalan-khayalan indah. Mengapa? Sebab
dirinya akan terbuai dengan sanjungan itu. Namun jika datang orang lain yang
mena-sihatinya, sikapnya langsung berubah aneh, dadanya menjadi sempit,
langsung ditimpalinya dengan omelan panjang, dan keluar kata-kata keji lagi
kasar dari lisan-nya.
Wahai
saudaraku, ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala banyak menutupi
kesalahan-kesalahan kita, dan itu merupakan nikmat yang sangat besar. Setiap
orang tentu lebih tahu tentang rahasia dirinya sendiri daripada orang lain.
Pujian orang lain kepada kita hanyalah jaring-jaring godaan yang dilemparkan
setan untuk menjerat diri kita. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala melindungi
kita dari godaan setan dan perangkapnya.
Seorang
ulama salaf bernama Khalid bin Shafwan rahimahullah banyak menyelidiki
psikologis bani Adam, ia berkata: "Berapa banyak orang yang terpedaya
dengan sitrullah (tirai Allah Subhanahu wa Ta'ala yang menutupi
kesalahan manu-sia) dan tergoda dengan sanjungan orang. Maka jangan sampai
kejahilan orang yang menyanjungmu menguasai kesadaranmu akan kadar dirimu.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak menjadikan kita termasuk golongan
mereka.
Jenis
pujian lainnya adalah memuji diri sendiri atas kekurangan yang ada padanya. Ini
termasuk rekomen-dasi terhadap diri sendiri. Sebagian orang sengaja memuji diri
sendiri di hadapan orang banyak. Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala telah
berfirman:
"Janganlah kamu menganggap diri kamu
suci" (An-Najm: 32)
Dan
perbuatan tadi termasuk menganggap suci diri sendiri. Rabbah Al-Qaisi pernah
ditanya: "Apakah yang dapat merusak amalan seseorang?" Beliau
menja-wab: "Sanjungan orang dan lupa terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala
yang telah memberi nikmat"
Seorang
penyair berkata:
Sungguh aneh orang yang memuji dirinya sendiri
Namun tidak menyadari bahwa pujiannya itu sendiri adalah kekurangan dirinya
Seorang pemuda memuji diri atas kekurangan yang ada padanya,
menyebut-nyebut aibnya sendiri hingga diketahui kejelekannya
Namun tidak menyadari bahwa pujiannya itu sendiri adalah kekurangan dirinya
Seorang pemuda memuji diri atas kekurangan yang ada padanya,
menyebut-nyebut aibnya sendiri hingga diketahui kejelekannya
Hendaknya
seorang muslim menjauhi perbuatan seperti ini. Ada lagi yang lebih aneh,
sebagian orang yang telah dijangkiti sifat ujub membongkar rahasianya sendiri
dengan mencela diri sendiri di hadapan orang lain. Mereka menyangka bahwa
perbuatan seperti itu akan melahirkan anggapan baik orang lain terhadap mereka,
bahwa mereka jauh dari sifat ujub dll. Sungguh mereka tidak menyadari bahwa
sifat tawadhu' merupakan karunia ilahi tidak dapat dibuat-buat seperti itu.
Barangsiapa yang mencela dirinya sendiri di hadapan orang banyak, sebenarnya ia
telah memuji dirinya, dan yang demikian itu termasuk tanda-tanda riya'
sebagaimana yang dituturkan Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah.
Yang
tidak kalah aneh adalah sikap sebagian orang mencela kanan kiri seolah-olah
bertindak sebagai wasit (penengah). Padahal sebenarnya ia tidak menengahinya.
Ia tidak menasihati orang itu karena takut akan membakar kemarahannya, dan
tidak pula memujinya karena khawatir akan ditentang orang banyak. Tetapi ia
menyebut kekurangan orang lain. Sebenarnya perbuatan-nya itu adalah pujian atas
dirinya sendiri. Dan ia pun sebenarnya tidak menyebutkan penyimpangan yang ada
pada saudaranya itu, namun ia cela si Umar sebagai orang yang lugu, si Zaid
sebagai pemalas dan lain sebagainya. Dengan itu jiwanya pun menjadi puas dan
senang. Realita seperti ini sangat cocok dengan ucapan Al-Fudhail bin 'Iyadh
rahimahullah: "Sesungguhnya di antara ciri-ciri orang munafik adalah
senang jika mendengar aib saudaranya."
Oleh
sebab itu, apabila kaum salaf mendengar aib salah seorang saudaranya dibeberkan
di hadapannya, ia akan marah. Ia akan lihat terlebih dahulu apakah hal itu
memang benar atau tidak! Dan kadangkala mereka menegur orang yang membeberkan
dan menyuruhnya untuk menyebutkan langsung hal itu kepada yang bersangkutan.
Betapa
bahagia orang yang dapat menjaga diri dari panah-panah setan tersebut. Selalu
mengoreksi diri dan menyadari kekurangan dirinya. Lalu menyadari bahwa
seberapapun banyak amal yang dikerjakannya, tetap kecil dibandingkan dengan kewajiban
bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala atas nikmat-nikmat yang telah
tercurah kepadanya. Hendaklah selalu kita ingat salah satu dari tujuh orang
yang dinaungi Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan
selain naungan-Nya, yaitu seorang yang bersedekah dan menyembunyikan
sedekahnya, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh
tangan kanannya. Dan seperti orang yang Allah Subhanahu wa Ta'ala mudahkan
untuk beramal shalih, yang tidak diketahui kecuali oleh segelintir orang saja.
Manfaat amalnya dapat dirasakan segenap kaum muslimin, namun mereka tidak
mengetahui orang yang melakukannya. Dalam hadits dikisahkan tentang seorang
lelaki yang berkata: "Saya akan mengeluarkan sedekah!" Kemudian dia
keluar pada malam hari dengan membawa sedekahnya itu. Ternyata sedekahnya itu
jatuh ke tangan seorang yang kaya. Keesokan harinya orang-orang pada
membicarakan peristiwa itu. Mereka berkata: "Seorang kaya telah diberi
sedekah!" Lelaki itu hanya berdoa: "Ya Allah, segala puji bagi-Mu,
sedekahku jatuh ke tangan orang kaya." Ia berkata lagi: "Saya akan
mengeluarkan sedekah!" Kemudian dia keluar pada malam kedua dengan membawa
sedekahnya itu. Ternyata sedekahnya itu jatuh ke tangan seorang pencuri.
Keesokan harinya orang-orang pada membicarakan peristiwa itu. Mereka berkata:
"Seorang pencuri telah diberi sedekah!" Lelaki itu hanya berdoa:
"Ya Allah, segala puji bagi-Mu, sede-kahku jatuh ke tangan orang kaya dan
seorang pencuri." Ia berkata lagi: "Saya akan mengeluarkan sedekah!"
Kemudian dia keluar pada malam hari dengan membawa sedekahnya itu. Ternyata
sedekahnya itu jatuh ke tangan seorang pelacur. Keesokan harinya orang-orang
pada membicarakan peristiwa itu. Mereka berkata: "Seorang pelacur telah
diberi sedekah!" Lelaki itu hanya berdoa: "Ya Allah, segala puji
bagi-Mu, sedekahku jatuh ke tangan orang kaya, seorang pencuri dan
pelacur." Kemudian ditanyakan kepadanya perihal tersebut, ia pun berkata:
"Semoga orang kaya itu dapat memetik pelajaran hingga bersedia
mengeluarkan kewajiban zakatnya, semoga si pencuri itu dapat menjaga kehormatan
dirinya dengan harta itu, dan semoga si pelacur dapat menjaga kehor-matan
dirinya dengan harta itu hingga dapat meninggal-kan perbuatan zina." (HR.
Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Dari
hadits itu dapat kita ketahui bahwa para sahabat lebih suka bila hubungan
antara mereka dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak diketahui orang banyak.
Mereka tidak suka orang lain mengetahui apa yang mereka amalkan. Mudrik bin
'Aun Al-Ahmas berkata: "Ketika aku berada di sisi Umar radhiyallahu 'anhu,
datanglah utusan An-Nu'man. Umar radhiyallahu 'anhu pun menanyakannya tentang
keadaan pasukan. Utusan itu menyebutkan orang-orang yang terluka dan terbunuh
di Nahawand, ia berkata: "Si Fulan bin Fulan, Fulan bin Fulan dan
lain-lain yang tidak engkau kenal. Umar radhiyallahu 'anhu berkata: "Akan
tetapi Allah Subhanahu wa Ta'ala mengetahui mereka." Dalam riwayat lain
disebutkan: "Akan tetapi Dzat Yang telah mengkaruniakan mereka syahadah (mati
syahid) mengetahui wajah dan nasab mereka."
Dalam
kisah yang lain disebutkan ketika Masla-mah bin Abdulmalik kesulitan merebut
sebuah benteng yang tengah dikepungnya. Benteng itu sangat kokoh sehingga sulit
ditaklukkan. Maslamah berkata kepada pasukannya: "Siapakah yang berani
masuk menerobos lewat jendela itu (ternyata pada benteng itu ada sebuah
jendela), untuk membuka pintu benteng dari dalam?" Maka majulah seorang
yang bertutup muka, ia segera menerobos jendela itu dan membuka pintu benteng
dari dalam. Begitu pintu terbuka pasukan kaum muslimin segera menyerbu masuk ke
dalam benteng, dan terja-dilah pertempuran yang sengit. Akhirnya pasukan kaum
muslimin dapat menaklukkan musuh. Selesai peperangan, Maslamah duduk-duduk
bersama segenap pasukannya. Ia berkata: "Siapakah engkau wahai orang yang
bertutup muka?" Namun segenap pasukan diam membisu! Masla-mah berseru
sekali lagi: "Siapakah engkau wahai orang yang bertutup muka?" Namun
mereka masih saja diam. Akhirnya Maslamah berkata: "Demi Allah, wahai
orang yang bertutup muka, silakan datang menemuiku siang atau malam hari!"
Pada malam harinya tiba-tiba ada orang yang menggerak-gerakkan tenda Maslamah,
Maslamah bertanya: "Apakah engkau orang yang bertutup muka itu?"
Orang itu menjawab: "Orang yang bertutup muka itu membuat beberapa
persyaratan kepada kalian." "Apa itu?" tanya Maslamah. "Ia
mensyaratkan agar kalian tidak bertanya tentang namanya dan nama ayahnya, dan
kalian jangan memberinya hadiah serta jangan laporkan namanya kepada
khalifah" jawab orang itu. "Kami penuhi syarat-syaratnya!" balas
Maslamah. Orang itu berkata: "Akulah orang yang bertutup muka itu!"
Tidakkah
engkau lihat wahai saudaraku, keikhlasan telah meluruskan amalnya. Kita memohon
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar kita dijauhkan dari setan dan dihindarkan
dari panah-panahnya. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala mencurahkan
keikhlasan kepada kita dalam berucap dan beramal. Dan kita tutup permohonan ini
dengan mengucapkan Alhamdu-lillahi Rabbil 'Alamin.
TANYA JAWAB TERKAIT
Soal Pertama
Saya
adalah seorang pemuda baik-baik yang masih duduk di bangku sekolah. Namun
mayoritas teman-teman saya di kelas adalah anak-anak nakal, sering berbuat
jahat dan melakukan perbuatan haram. Saya mohon agar Anda menjelaskan cara
terbaik mengajak mereka untuk meninggalkan maksiat, hingga mereka menyukai saya
dan menyukai perbuatan baik.
Jawab
Saya
anjurkan kepada Anda dan kepada pemuda yang berada di tengah-tengah lingkungan
pergaulan yang kurang baik agar jangan sekali-kali menggurui anak-anak nakal
tersebut. Namun pertama kali hendaknya Anda memohon pertolongan kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala dalam mengatasi mereka. Kemudian hadiahkanlah kepada mereka
(anak-anak nakal tersebut) kaset-kaset ceramah, buku-buku islami, atau tulislah
surat berisi nasihat kepada mereka. Atau boleh juga Anda meminta bimbingan dan
pengarahan dari guru-guru di sekolah, dengan melaporkan masalah tersebut kepada
mereka dan menjelaskan solusinya sehingga mereka bisa ikut serta dalam
menanggulangi masalah itu. Dengan cara seperti itu Anda telah memain-kan
peranan yang sangat berarti dalam medan dakwah. Dan tidak perlu Anda melaporkan
nama-nama mereka kepada guru. Jika Anda tidak mampu menghadiahkan kaset atau
buku kepada mereka, hendaknya Anda mencari orang yang mampu untuk menghadiahkannya.
Bila Anda melihat mereka semakin sombong, menjauhi Anda dan tetap berbuat
jahat, hendaknya engkau hindari berkumpul bersama mereka. Sehingga perbuatan
jahat mereka tidak menular kepada diri Anda, dan juga agar Anda tidak melihat
maksiat dan kemungkaran sementara Anda tidak dapat melarangnya. Adapun mengenai
pindah sekolah, masalah itu terserah Anda, boleh jadi keberada-an Anda di situ
justru banyak memperbaiki keadaan. Se-moga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi
hidayah kepada kaum muslimin yang tersesat.
Soal kedua
Apa
peran yang dapat saya lakukan terhadap se-orang yang mulai menurun nilai
ketaatannya?
Jawab
Peran
Anda sangat besar dalam membimbingnya, janganlah Anda sepelekan peran Anda
tersebut. Hendak-nya Anda berusaha membimbingnya dan sering mengajak-nya
berdialog serta menyuntikkan motivasi kepadanya untuk kembali berbuat taat.
Boleh juga Anda utus seorang yang shalih seperti Anda untuk menasihatinya.
Jangan biarkan ia menjadi mangsa setan. Dan hendak-nya Anda menjelaskan
kepadanya azab dan siksa yang bakal dirasakan oleh orang-orang yang berbuat
dosa. Dan hendaknya Anda menghadiahkan kaset-kaset dan buku-buku yang dapat
menguatkan keimanannya.
Soal ketiga
Sebagian
orang ada yang mengaku seorang multazim (taat beragama), padahal ia
sering durhaka terhadap kedua orang tuanya. Bagaimana nasihat Anda dalam
masalah ini?
Jawab
Allah
Subhanahu wa Ta'ala telah menyertakan hak kedua orang tua dengan hak-Nya. Dalam
Al-Quran disebutkan:
"Bersyukurlah kamu kepada-Ku dan kepada kedua ibu
bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu." (Luqman: 14)
dalam
ayat lain Allah berfirman:
"Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu
jangan menyembah selain Dia dan hendaklah ka-mu berbuat baik pada ibu bapakmu
dengan sebaik-baiknya." (QS. Al-Isra': 23)
Orang
yang ditanyakan di dalam soal tadi pada hakikatnya tidak mengerti makna "iltizam",
bagaimana mungkin disebut multazim jika kemungkaran yang besar ini
(yaitu durhaka terhadap ibu bapak) ada pada dirinya? Seorang pemuda muslim
hendaknya selalu berbakti kepada ayah bundanya, bukankah Allah Subhanahu wa
Ta'ala telah berfirman: "Maka janganlah kamu katakan 'ah' kepada
keduanya", apalagi engkau membentak keduanya dengan ucapan jika mengatakan
'ah' saja sudah dila-rang!? Jika demikian adanya, maka hal itu jelas menunjukkan
bahwa nilai iltizamnya lemah. Bagi yang mengetahui hal itu hendaklah memberikan
nasihat kepadanya, dan bagi orang tersebut hendaklah segera bertaubat kepada
Allah.
Soal keempat
Apakah
ujub itu amal lahiriyah ataukah amal batin (hati)?
Jawab
Ujub
berpangkal dari goresan hati yang teraplikasi dalam aktifitas sehari-hari. Jika
seorang telah terjangkiti penyakit ujub, ia akan membanggakan diri sendiri dan
meremehkan orang lain. Dari situ ia akan benci mene-rima kebenaran dari orang
lain. Di samping itu, ia suka kepada orang yang membangga-banggakan dirinya.
Soal kelima
Apakah
perasaan senang dan bahagia atas amalan yang telah kukerjakan seperti shalat
malam, puasa dan mengingat-ingat amalan tersebut sepanjang hari terma-suk
kategori ujub?
Jawab
Sebaiknya
Anda tidak menganggap banyak amalan seperti itu, Anda memang boleh berbahagia
dapat me-ngerjakan amalan tersebut, yang demikian itu sangat terpuji. Namun
jangan sekali-kali Anda terpedaya setiap kali mengerjakan suatu amalan seperti
shalat malam misalnya, bahwa Anda telah mengerjakan amalan yang banyak,
barangkali orang lain tidak mampu melakukan seperti yang Anda lakukan.
Sebaiknya kebahagian Anda itu diwujudkan dalam bentuk pujian kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala dan senantiasa bersyukur kepada-Nya yang telah memu-dahkan
Anda untuk mengerjakannya. Yang jelas, jangan-lah Anda menganggap banyak amalan
ini, dan jangan pula Anda ceritakan kepada orang lain, sebab itu adalah pintu
menuju riya', kecuali bila terdapat maslahat dakwah atau maslahat lainnya dengan
menceritakannya. Seperti yang dialami oleh Abu Bakar radhiyallahu 'anhu ketika
Rasu-lullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya: "Siapakah di antara
kalian yang menjenguk orang sakit pada hari ini? Abu Bakar radhiyallahu 'anhu
menjawab: "Saya".
Soal keenam
Bagaimana
pendapat Anda dengan ucapan "Bersi-kap sombong terhadap orang sombong
adalah ibadah"?
Jawab
Kesalahan
jangan diperbaiki dengan kesalahan pula, Seperti dalam permainan olah raga ada
istilah draw kosong-kosong. Sebagaimana yang diungkapkan dalam sebuah syair:
Ingatlah! Jangan sampai ada orang yang berbuat jahil
terhadap kami
Niscaya kami akan berbuat jahil terhadapnya melebihi kejahilan yang pernah ada
Niscaya kami akan berbuat jahil terhadapnya melebihi kejahilan yang pernah ada
Telah
kita ketahui bersama bahwa sifat sombong itu tercela. Maka jika kita melihat
seseorang terkena penyakit sombong, ucapkanlah: "Alhamdulillah yang telah
menyelamatkan daku dari penyakit sombong yang ada pada orang itu". Dan
doakanlah semoga ia mendapat hidayah serta berilah nasihat kepadanya semampumu.
Perlu diketahui, kita tidak boleh menganggap sesuatu itu ibadah padahal
sebenarnya bukan termasuk ibadah.
Soal ketujuh
Saya
mohon agar Anda menjelaskan kepada kami bahaya yang timbul dari gerombolan
pemuda yang ber-kumpul di tepi-tepi jalan, persimpangan, pertokoan dan
tempat-tempat lain serta ejekan mereka yang pedas terhadap orang yang coba
menasihati dan menerangkan bahaya yang timbul dari perbuatan mereka.
Jawab
Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam telah menjelaskan kepada para sahabat
kewajiban orang yang duduk-duduk di tepi jalan, beliau bersabda:

"Hindarilah duduk-duduk di tepi-tepi jalan!" Mereka berkata: "Wahai Rasulullah, kami tidak punya tempat lain selain itu, kami biasa berbincang-bincang di situ! Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Jika kalian bersikeras, maka penuhilah hak jalan" Mereka bertanya: "Apa itu hak jalan?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Menundukkan pandangan, tidak mengganggu orang, menjawab salam dan menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar." (HR. Al-Bukhari dan Mus-lim)
Hendaknya
pemuda-pemuda yang berkumpul di pinggir jalan dan di tempat-tempat lainnya
mengetahui kewajiban tersebut, jika ada yang mengucapkan salam kepada mereka
lalu mereka tidak menjawab salamnya, maka mereka semua berdosa. Seandainya
lewat sese-orang yang pendek atau yang jangkung atau lewat seorang wanita atau
anak-anak, hingga pandangan tertuju padanya kemudian mereka mencemooh ini dan
itu, mereka jelas berdosa. Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh
orang-orang yang tidak menyadari akibat buruknya. Akan tetapi, apa peran kita
dalam menanggulanginya? Apakah kita hanya bisa mengeluhkan fenomena ini? Saya
dapat memaklumi problema yang dihadapi saudara saya yang dicemooh gerombolan
pemuda itu setiap kali berusaha menasihati mereka. Sekiranya khawatir mereka
akan menuduh kita ekstrim, sok alim dan lain sebagai-nya, bukankah hal itu
tidak merugikan kita sedikit pun. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
adalah teladan kita dalam hal ini. Beliau telah merasakan dua macam gangguan,
cemoohan dan ejekan, ada yang mengatai beliau gila, tukang sihir, dukun dan
lain sebagainya. Apakah mereka mengejek Anda demikian? Jikalau memang demikian,
tentu itu menunjukkan bahwa Anda berjalan di atas petunjuk Nabi. Yang kedua
adalah gangguan fisik, rumah beliau pernah dilempari kotoran hingga beliau
berkata: "Tetangga seperti apakah ini?", diletakkan isi perut unta ke
atas kepala beliau ketika tengah sujud, dicekik dengan keras hingga nyaris
terbunuh, terluka kepala beliau, putus gigi beliau dan penduduk Thaif
memprovokasi anak-anak serta orang-orang pasaran untuk melempari beliau dengan
batu hingga terluka kedua kaki beliau. Beliau shallallahu 'alaihi wasallam
mengisahkan: "Aku pun kembali dengan perasaan sedih, tanpa sadar aku telah
sampai di Qarnu Tsa'alib." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Demikianlah
perjuangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang patut menjadi teladan
yang baik bagi kita semua. Sampaikan-lah nasihat yang tulus kepada mereka dan
jangan hiraukan apa yang mereka katakan. Ketahuilah hal itu justru mengangkat
derajat Anda di sisi Allah. Dan sebaiknya kita tangani serius gerombolan pemuda
itu, misalnya kita berjumlah sepuluh orang, tentu tidak mungkin mereka mengejek
kita yang berjumlah sepuluh orang, minimal mereka akan berpikir dan diam.
Demikianlah lakukan sekali, dua kali dan seterusnya. Mengapa tidak ada yang
berani mendatangi mereka untuk mengajak bicara? Barangkali mereka mau mendengar
nasihat, semoga Allah memberi mereka hidayah. Atau barangkali mereka akan
bubar, dengan demikian kejahatan mereka dapat ditekan. Kesimpulannya adalah
kita harus melaku-kan sesuatu untuk menyadarkan mereka.
Peran
imam masjid dan masyarakat kaum muslimin sangat besar dan berarti dalam
menanggulangi masalah ini. Janganlah hanya bisa mengeluh tanpa dapat
memberi-kan solusi yang tepat untuk mengatasinya.
Soal kedelapan
Sebagian
pemuda memiliki sifat tercela, yaitu ber-beda-beda dalam mensikapi orang.
Sikapnya terhadap si Zaid misalnya lemah lembut dan bermanis muka, namun
terhadap yang lain bermuka masam. Hampir-hampir kita tidak dapat
mempercayainya. Jika coba dinasihati, dengan santai ia menjawab: "Bukankah
hati manusia itu ibarat pasukan yang telah dipersiapkan? Bagaimana pendapat Anda
dengan jawaban tersebut?
Jawab
Memang
benar, arwah itu ibarat pasukan yang sudah dipersiapkan, yang cocok akan mudah
bersatu, yang tidak cocok akan bercerai. Namun Dienul Islam melarang Anda
menimbang dengan dua timbangan (tidak fair dalam menilai). Sebab yang paling
mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah yang paling bertakwa. Dan Dienul
Islam menganjurkan kita berinteraksi sosial dengan baik. Sebaiknya pemuda yang
memiliki sifat seperti itu diluruskan dan diperbaiki. Maka hendaknya Anda bersi-kap
fair dalam menghadapi orang. Apabila perbedaan sikap itu muncul karena suatu
urusan, atau untuk berbasa-basi, tidak cukup dengan bermuka masam saja, namun
harus disertai dengan nasihat. Dalam Shahih Al-Bukhari dikisahkan ketika
seorang Arab badui datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,
beliau berkata:
"Izinkanlah
ia masuk, ia adalah sejelek-jelek pemimpin kaum." Ketika ia
masuk, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersikap ramah dan bermanis muka
terhadapnya. Melihat hal itu 'Aisyah radhiyallahu 'anhu bertanya kepada
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau pun menjawab: "Seburuk-buruk
manusia adalah yang dijauhi orang karena takut akan keja-hatannya."
Oleh
sebab itu wahai saudaraku, Dienul Islam tidak membenarkan Anda menimbang dengan
dua timbangan (tidak fair dalam menilai), jika Anda membenci sese-orang karena
suatu sebab, maka ungkapkanlah kepada yang bersangkutan.
Soal kesembilan
Banyak
sekali saya temui para pemuda yang meng-alami kelesuan dalam aktifitas
dakwahnya, bagaimanakah solusi masalah ini?
Jawab
Sebenarnya
kita sendirilah yang menciptakan kelesuan itu dan kita sendiri juga yang
menebarkannya. Dan Anda adalah salah satu di antaranya. Kadangkala kita juga
diliputi kelesuan tanpa kita sadari. Sebagai contoh, bila Anda biasa berdakwah
di kampung-kam-pung, di sekolah, di tempat kerja, atau tempat-tempat lain yang
menjadi lahan dakwah Anda, lalu Anda melihat seseorang melakukan sebuah
penyimpangan, sebenarnya yang harus Anda lakukan adalah memberikan nasihat atau
satu dua patah kalimat yang bermanfaat untuknya. Apakah Anda melakukan seperti
itu? Alangkah baiknya jika Anda bertolak dari rumah dengan niat yang baik yaitu
menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar, menebar nasihat dan berbuat baik, niscaya
Anda akan mendapat pahala yang besar atas niat tersebut. Dan sebaiknya Anda
bekerja sama dengan teman-teman Anda dalam mengemban misi dakwah ilallah,
sebab kerja sama itu akan membuat Anda lebih kuat.
Soal kesepuluh
Setelah
menjalani kehidupan jahiliyah akhirnya Allah menganugerahkan hidayah
kepadaku. Namun kadang-kala aku masih sering melihat perkara yang diharamkan.
Saya mohon bimbingan Anda.
Jawab
Tentu
saja seorang yang baru saja berhijrah dari kehidupan jahiliyah kepada kehidupan
yang Islami masih terimbas dalam hatinya sisa-sisa masa lalu. Oleh sebab itu,
Anda harus membentengi diri dengan amalan-amalan ketaatan. Dan memilih
teman-teman yang baik serta berusaha mengerjakan amal shalih sebanyak mungkin.
Bukankah Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:
"Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu
menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk." (Huud:
114)
Dan
hendaknya Anda menjauhkan diri dari seluruh perkara yang dapat mengingatkan
masa lalu Anda. Hingga nilai hijrah anda menjadi kokoh insya Allah. Kemudian
jadilah penyeru kepada agama Allah.
Soal kesebelas
Sebagian
pemuda masih suka menyorotkan pan-dangan mereka kepada yang diharamkan Allah.
Bagai-manakah cara penyembuhan dari penyakit ini?
Jawab
Allah
Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman kepada Nabi-Nya:
"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman:
"Hen-daklah mereka menahan pandangannya." (An-Nur:
30)
Ayat
di atas memerintahkan Anda untuk menahan pandangan dari yang diharamkan. Jika
pandangan Anda tiba-tiba tertumbuk pada sesuatu yang diharamkan, maka segeralah
palingkan pandangan Anda. Sebab Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah
ditanya tentang pandangan tak sengaja, beliau menjawab: "Palingkanlah
pandanganmu, sebab pandangan pertama dimaafkan, namun pandangan berikutnya
membawa dosa." (HR. Muslim dalam Kitabul Isti'dzan, Abu Dawud dan
At-Tirmidzi)
Seorang
penyair berkata:
Segala malapetaka berawal dari pandangan mata
Laksana api yang berkobar dari sebuah percikan kecil
Betapa banyak orang yang dilumpuhkan pandangan matanya
Yang merobek laksana panah melesat tanpa busur dan talinya
Puas matanya namun merana batinnya
Tiada kebahagiaan yang berakhir dengan malapetaka
Selama seseorang memiliki sepasang mata yang bebas ia sorotkan kepada wanita-wanita
Segala yang dipandangnya akan membahayakan diri sendiriPandangan haram tersebut dapat melahirkan berba-gai penyimpangan yang berbuah penyesalan di belakang hari. Padahal dengan menahan pandangan Anda akan beroleh pahala. Mohonlah selalu pertolongan dari Allah dan jangan melemah.
Laksana api yang berkobar dari sebuah percikan kecil
Betapa banyak orang yang dilumpuhkan pandangan matanya
Yang merobek laksana panah melesat tanpa busur dan talinya
Puas matanya namun merana batinnya
Tiada kebahagiaan yang berakhir dengan malapetaka
Selama seseorang memiliki sepasang mata yang bebas ia sorotkan kepada wanita-wanita
Segala yang dipandangnya akan membahayakan diri sendiriPandangan haram tersebut dapat melahirkan berba-gai penyimpangan yang berbuah penyesalan di belakang hari. Padahal dengan menahan pandangan Anda akan beroleh pahala. Mohonlah selalu pertolongan dari Allah dan jangan melemah.
Soal kedua belas
Akhir-akhir
ini muncul sebuah model rambut di tengah-tengah kaum wanita, yaitu jambul yang
terjurai ke depan. Apakah model semacam itu dibolehkan? Berilah kami jawaban
semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.
Jawab
Seorang
wanita muslimah hendaknya menyelaras-kan seluruh tingkah lakunya dengan
nilai-nilai Islam. Hendaknya ia mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan tuntutan
syariat dan meninggalkan segala yang berten-tangan dengannya.
Sekarang
ini banyak kita temui berbagai macam model rambut yang dilarang syariat,
khususnya di kala-ngan wanita. Sekiranya masalah ini kita kupas panjang lebar,
niscaya buku kecil ini tidak cukup untuk memuat-nya. Namun dalam kesempatan
kali ini cukup saya jelaskan sebagai berikut: Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam telah bersabda:
"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongannya."
(HR. Abu Dawud dan Ahmad dengan matan yang lebih lengkap. Ibnu Taimiyah menyatakan sanadnya bagus, demikian pula Ibnu Hajar dalam Fathul Bari)
Jika
model rambut tersebut meniru model rambut wanita kafir, jelas haram hukumnya.
Demikian pula bila ia bentuk rambutnya seperti potongan rambut lelaki. Sebab
kaum wanita dilarang menyerupai kaum lelaki. Namun sebagian wanita membuat
jambul tersebut lalu berkata: "Saya tidak bermaksud meniru wanita
kafir" Apa sebabnya ia berkata demikian? Karena tahu jika ia mengaku
meniru wanita kafir, tentu secara tegas kita katakan haram. Ada beberapa
pengalaman menarik, salah seorang akhwat menjelaskan kepadaku salah satu model
rambut wanita lewat telepon. Saya katakan kepadanya: "Kelihatannya model
rambut seperti itu termasuk tasyabbuh (meniru) model rambut wanita
kafir." Ia langsung beristighfar: "Astaghfirullah , saya tidak
bermaksud meniru wanita kafir!" Lalu saya tanyakan kepadanya: "Kalau
begitu, apa nama model rambut ter-sebut?" Ia menjawab:
"Michael!" Langsung saja saya katakan: "Itulah yang dinamakan tasyabbuh!"
Seorang
akhwat lainnya menerangkan kepadaku salah satu model rambut melalui secarik
kertas. Ia me-nerangkan sebuah model rambut dengan detail. Namun saya belum
begitu mengenal model rambut seperti yang diceritakannya. Selesai ceramah
tepatnya setelah menu-naikan shalat, salah seorang akhwat mengutus seorang
bocah kecil kepadaku. Bocah itu berkata: "Salah seorang akhwat mengatakan
kepada Anda bahwa nama model rambut itu adalah Diana's Dog. Saya langsung
beristigh-far: " Astaghfirullah, apakah seorang wanita muslimah
tega menghinakan dirinya dengan menyerupakan diri seperti anjing seorang wanita
kafir?!" Betapa jauh berbeda keadaan mereka dengan Asma' binti Abi Bakar
dan sahabiyat lainnya yang telah menorehkan sejarah dengan melahirkan
generasi-generasi muslim yang tangguh.
Pengalaman
lain yang tak kalah menarik, seorang akhwat pernah bertanya kepadaku: "Apa
hukumnya meng-keriting rambut?" Saya jawab: "Subhanallah,
dahulu wanita tidak senang bahkan membenci rambut keriting, namun pada hari ini
rambut keriting justru digandrungi mayoritas kaum wanita!?" Saya tidak
berani memberikan jawaban, sebab ada sesuatu yang tersembunyi dibalik masalah
ini!" Beberapa waktu kemudian, salah seorang ikhwan menghubungiku lewat
telepon, ia mengaku baru kembali dari Amerika bersama istrinya. Ia menceritakan
bahwa sebab wanita Amerika mengeriting rambut mereka sebagai berikut:
Tersebutlah seorang wanita Amerika yang memelihara seekor anjing berbulu
keriting. Kemu-dian anjing itu mati. Sebelumnya wanita itu telah bersumpah
tidak akan melupakan anjingnya itu. Wanita itupun mengeriting rambutnya untuk
mengenang anjing kesayangannya. Kemudian model rambut tersebut ditiru oleh
tetangga-tetangganya. Lalu menyebar luas bak aliran listrik. Hingga ditiru oleh
wanita-wanita muslimah. Oleh sebab itu saya peringatkan kepada para akhwat agar
senantiasa menyelaraskan perbuatannya dengan nilai-nilai agama. Janganlah ia
berbuat sesuatu yang meniru wanita-wanita kafir atau kaum lelaki. Hendaklah ia
meneladani para ummahatul mukminin dan para sahabiyat seperti Khadijah, Fathimah
dan wanita mukminah lainnya Radhiyallahu anhunna.
Soal ketiga belas
Sekarang
ini tengah menjamur kebiasaan buruk, yaitu seorang wanita duduk berkumpul
bersama saudara laki-laki suaminya, menghidangkan minuman dan
ber-bincang-bincang dengannya tanpa ada keperluan mende-sak. Bagaimana
pengarahan Anda dalam menangani masalah ini? Apakah perbuatan seperti itu
terpuji atau justru tercela?
Jawab
Dalam
sebuah hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Hindarilah berkhalwat (berduan) dengan kaum wanita!" Ada yang bertanya: "Wahai Rasulullah, bagaimanakah dengan saudara ipar?" Rasulullah menjawab: "Berkhalwat dengan saudara ipar itu adalah maut!" (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)
Rasulullah
mengibaratkan duduk berduaan dengan saudara ipar laksana maut, yaitu sangat
buruk dan ber-bahaya. Oleh sebab itu, kebiasaan tersebut tidak terpuji bahkan
sangat tercela. Penjelasannya sebagai berikut.
Ketika
seorang wanita duduk-duduk berkumpul dengan lelaki yang bukan mahramnya di
antaranya ada-lah saudara ipar- baik yang sudah menikah ataupun belum, dapat
tergoda dengan kelembutan suaranya apalagi bila tawanya berderai. Terkadang ia
bergerak hingga kelihatan lekuk tubuhnya. Hal itu tentu merupa-kan suatu
kesalahan besar yang dapat menimbulkan musibah.
Sebaik-baik
wanita adalah yang dapat menjaga kehormatan diri, sebagaimana yang dituturkan
Fathi-mah radhiyallahu 'anhu. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
bertanya: "Siapakah wanita yang paling baik?" Ali bin Abi
Thalib radhiyallahu 'anhu segera bangkit seraya terus berfikir tentang masalah
itu. Lalu ia tanyakan masalah itu kepada Fathimah radhiyallahu 'anhu. Ia
menjawab: "Sebaik-baik wanita adalah yang tidak melihat laki-laki yang
bukan mahram dan mereka tidak meli-hatnya."
Hendaknya
seorang wanita senantiasa menjaga dirinya sekalipun terhadap saudara ipar.
Kecuali jika ada kebutuhan mendesak, mereka boleh berbicara dengan mereka
sekadarnya saja. Bukan berarti harus timbul perasan saling mencurigai, namun
hendaknya seluruh perbuatan kita harus berdasarkan kaidah-kaidah syar'i.
Soal keempat belas
Apa
maksudnya mencintai karena Allah? Apakah mencintai muallimah (guru wanita) yang
elok akhlaknya termasuk mencintai karena Allah?
Jawab
Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam telah menyebutkan kepada kita ba-tasannya dalam
sebuah hadits:

"Tujuh golongan yang dinaungi Allah pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya, be-liau menyebutkan di antaranya: dua orang yang bersaudara saling mencintai karena Allah, bertemu karena-Nya dan berpisah juga karena-Nya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Apabila
pertemuan dan perpisahan itu didasari rasa cinta karena Allah semata, tidak
untuk maksud-maksud duniawi, maka itulah yang dinamakan mencintai karena Allah.
Namun jika pertemuan dan perpisahan itu karena harta atau gengsi atau lainnya,
tentu tidak termasuk mencintai karena Allah. Meskipun ia berusaha memaksakan
seolah-olah cintanya hanya karena Allah.
Sekarang
ini kaum wanita begitu mudah terpesona dengan penampilan dan gaya wanita lain
yang dianggap-nya hebat. Ini merupakan suatu penyakit . Ia berusaha meniru
seluruh gerak gerik dan tingkah laku wanita yang diidolainya itu. Sehingga si
wanita itu selalu ada dalam pikirannya karena saking cinta dan terpesona
kepadanya. Kadangkala hal itu menyeret mereka kepa-da penyimpangan. Bukan
membantunya dalam berbuat taat, malah justru sebaliknya. Sudah banyak
wanita-wanita yang menjadi korban penyakit ini. Saya tidak perlu membeberkannya
lebih lanjut. Lucunya di antara kaum wanita itu ada yang tetap bersikeras bahwa
sikap seperti itu adalah wujud cintanya karena Allah! Namun kiranya realita
yang terjadi cukup sebagai buktinya.
Soal kelima belas
Bagaimana
pendapat Anda dengan seseorang yang mengaku multazim (taat beragama) namun
masih suka membaca kisah-kisah cinta dan asmara. Apa nasihat Anda kepada
mereka?
Jawab
Pada
jawaban yang lalu telah saya terangkan bah-wa banyak sekali orang yang tidak
mengetahui hakikat iltizam. Oleh sebab itulah mereka masih saja
melakukan pelanggaran demi pelanggaran. Apabila tujuan memba-canya untuk
membantah apa yang ada di dalamnya dan untuk memperingatkan orang lain dari
bahayanya, tentu saja dibolehkan. Namun jika tujuan membacanya hanya sebagai
hiburan dan mengisi waktu senggang, jelas dilarang. Sebab hal itu dapat
mengotori pikirannya. Me-nurut pandanganku, membaca kisah-kisah cinta seperti
itu ibarat memakan makanan busuk yang telah berakhir masa berlakunya. Jika
dengan membacanya pikiran menjadi busuk tentu bahayanya lebih dahsyat dan lebih
besar lagi.
Soal keenam belas
Tolong
jelaskan kepada kami kewajiban-kewajiban seorang istri yang tinggal di rumah
mertua terhadap saudara-saudara iparnya. Apa saja kewajibannya terha-dap mereka
dan apa kewajiban mereka terhadapnya?
Jawab
Seorang
istri yang tinggal di rumah mertua hen-daknya tidak memakai wewangian bila
bertemu dengan saudara-saudara iparnya, tidak memakai perhiasan dan berusaha
untuk tidak banyak berbincang-bincang dengan mereka kecuali sekadar kebutuhan
saja. Dan hendaknya menghindari khalwat (berduaan) dengan mereka. Semo-ga Allah
memberikan taufiq kepada kita semua kepada amalan yang dicintai dan
diridhai-Nya.
Soal ketujuh belas
Apa
hukumnya memakai gaun sutera?
Jawab
Banyak
sekali yang menanyakan tentang masalah ini. Menurut sepengetahuanku gaun sutera
ini ada bebe-rapa jenis. Jika gaun tersebut ketat hingga menampakkan bentuk
tangannya, tidak syak lagi pasti dapat menimbulkan fitnah. Maka hendaknya ia
tidak memakainya. Di sana ada beberapa jenis gaun lainnya, pergelangan tangan
gaun itu tampak tipis hingga lengan dapat terlihat saat memakainya. Ini juga
dapat menimbulkan fitnah. Tentu saja dilarang mengenakannya. Namun jika gaun
itu besar dan luas serta tidak transparan, menurut pendapatku boleh-boleh saja
dikenakan.
Soal kedelapan belas
Ke
mana sebaiknya disalurkan sedekah-sedekah jariyah, ke dalam negeri atau ke luar
negeri?
Jawab
Penyalurannya
disesuaikan dengan kebutuhan. Tem-pat mana saja yang membutuhkan berhak
menerima penyaluran sedekah tersebut.
Soal kesembilan belas
Apa
hukumnya mengecat rambut dengan warna hitam?
Jawab
Tentu
saja, mengecat rambut dengan warna hitam adalah dilarang. Namun sekarang ini
muncul alat pewar-na rambut baru yang terkomposisi dari berbagai warna.
Sebagian wanita bertanya: "Apa hukumnya memakai pe-warna rambut seperti
itu? Dan apa maksudnya mewarna rambut? Saya katakan: "Yaitu mengecat rambut
dengan warna-warni." Subhanallah, zaman sekarang benar-benar edan,
semuanya ada dan bebas dilakukan. Hingga ada seorang akhwat yang berkata:
"Dahulu aku mengecat rambut dengan warna tertentu, lantas ingin
kuhilangkan, namun ternyata rambutku berubah jadi memutih, sehingga aku terpaksa
mengecatnya dengan warna hitam. Sung-guh edan memang!
Saya
memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar mencurahkan ketakwaan kepada diri
kita dan membersihkannya. Sesungguhnya Dia-lah sebaik-baik yang mensucikannya
dan Dia-lah walinya dan pemiliknya.
Ya
Allah, ajarkanlah kepada kami hal-hal yang bermanfaat, dan anugrahkanlah
manfaaat dari ilmu yang kami ketahui. Ya Allah, jagalah kami, dan peliharalah
iman kami, jiwa kami, kehormatan kami, dan negeri kami. Ya Allah, curahkanlah
keamanan di dalam negeri kami dan perbaikilah keadaan penguasa-penguasa kami.
Karuniailah mereka wazir-wazir yang baik lagi shalih. Dan kami tutup permohonan
kami dengan mengucapkan Alhamdulillahi rabbil 'alamin.


Komentar
Posting Komentar