Aerobic Hati
Ada apa dengan
dunia? Kabarnya selalu mendung tapi tak kunjung hujan, namun justru
hawa panas kering yang menerpa. Adakah semua ini akibat dari khilaf
dan lupa kita? Pressures, masalah, kekurangan, kesempitan
seakan terus menerus menikam dari segala arah. Setiap hari, dari
segala penjuru. Usut punya usut, ternyata memang ulah kita sendiri
yang banyak lalai, taat tak lagi giat bahkan pikiran isinya hanya
urusan syahwat dan nyerempet maksiat, astaghfirullah. Lantas
bagaimana mau tenang, jika semuanya diselesaikan dengan urat syaraf?
Persoalan hidup
seharusnya menjadikan kita giat menambah ilmu dan seyogyanya kita
mengerahkan potensi terbaik kita serta meningkatkan kepiawaian menata
hati dalam menghadapinya. Bukan dengan resah, bukan dengan amarah,
terlebih lagi menjadi salah arah, tapi semestinya senantiasa
melibatkan jiwa muthmainah dan rahmah.
Lebih sering
kita menggunakan logika dan metode matematis mekanis untuk
menuntaskan persoalan sehingga hasilnya jadi terkesan sadis tanpa
perasaan dan hitungannya untung rugi dan kembali lagi soal materi.
Memang tidak dilarang memakai logika duniawi dalam menangani masalah,
namun tetap harus ditanamkan dalam sanubari bahwa kelembutan dan
sentuhan pembinaan adalah uswah yang diperagakan oleh manusia
paling sempurna, Rasulullah SAW dalam menghadapi kondisi apapun di
dunia ini. Adakah lebih baik segala sesuatu disampaikan dengan
sentuhan hati, membina, membimbing dan mengayomi? Seperti layaknya
seorang ibu yang mencurahkan kasih sayang terhadap anaknya, penuh
kelembutan dan pengertian. Dengan penuh kelembutan seorang ibu
menjadi pelindung bagi sang anak, menjadi tempat mengadu, bahkan
tanpa kata hanya dengan tatapan lembutnya, jiwa ibu berkomunikasi
dengan jiwa anaknya. Hasilnya, keceriaan dan tulusnya tawa sang anak.
Orang bilang ini
melow, melankolis, nggak keren, malu-maluin, tapi faktanya
inilah yang hilang dari kita. Budaya husnudzhan, menjunjung tinggi
silaturahmin, perkuat ukhuwah, saling pengertian, dan kasih sayang
untuk mengajak orang bersama membangun kebaikan. Menangis menjadi
tertawaan, karena dinilai cengeng, padahal sesungguhnya saat ini kita
seharusnya menangis. Karena kondisi kebersamaan kita telah digerogoti
oleh virus-virus fitnah dan curiga, kekuatan daya juang kita melemah
karena ia tidak lagi ditopang oleh misi hidup tertata sesuai dengan
konsep ilahiah yang penuh nuansa kebersamaan dan tausiyah. Motivasi
kita lembek dan kita memilih menjadi pengemis materi. Maaf, tapi ini
faktanya.
Mungkin sudah
saatnya kita duduk bersama, bercengkerama seperti dulu, berdiskusi
tanpa beban, menasehati tanpa menekan, saling berbagi suka duka. Agar
hilang semua resah sehingga pecahlah semua masalah. Mari kita semua
mulai dengan mengintrospeksi diri, nilai semua celah kesalahan,
kalkulasi kekhilafan, catat semua kekurangan. Lalu mohonkan ampun
kehadirat-Nya, sujudkan jiwa kehadapan Sang Maha Agung, basahi bibir
dengan zikir istighfar. Sekali lagi paksa diri untuk senantiasa
melantunkan istighfar. Jangan sedikitpun beri kesempatan diri untuk
mengulangi diri terperosok ke lubang kebinasaan yang sama.
Ternyata dengan
kesulitan hati menjadi lentur, tarik ke kanan ke kiri, tekan atas
dorong dari bawah. Hati yang terlatih pasti akan menjadi kuat, ia
menjadi tahan guncangan, sehat wal afiat. Bahkan hati yang
sudah terlatih mampu mengatasi masalah tanpa amarah.
Masalah apapun
yang kita hadapi sesungguh adalah sekolah bagi jiwa dan hati kita.
Katakan pada diri, bahwa setiap episode kehidupan mampu menjadikan
diri kita menemukan kita yang sebenarnya. Walaupun berat tapi ampuh
dan mujarab untuk menjadikan kita lebih kuat dan taat. Maka,
berupayalah untuk meningkatkan kedekatan diri kita kepada-Nya, kenali
kelemahan diri, upayakan sekuat hati menegakan semangat renovasi jiwa
dan perbanyak menebar kebaikan dan amal soleh. So, masalah? Siapa
takut.


Komentar
Posting Komentar