Kisah Sahabat yang di sholati, di kafani dengan Malaikat




Kisah Sahabat yang di sholati, di kafani dengan Malaikat





Bismillahirrohmanirrohim





ilustrasi surga


Kami, bersama rombongan, pergi dari irak menuju mekah dan madinah. Di antara kami ada seorang lelaki irak yang pada tubuh kuningnya, terdapat warna merah kekuningan. Darah di wajahnya tampak hilang karena tekunnya ibadah. Ia memakai baju usang pe-nuh tambalan. Tangannya memegang tongkat dan per-bekala-an.

Abid dan Zahid itu adalah Uways al-Qarni. Rom-bong-an merasa tidak nyaman dengan penampilan. Mereka berkata kepadanya, "sepertinya engkau seorang hamba." "Ya," jawabnya. "sepertinya engkau hamba ber-kelakuan buruk yang lari dari majikan." "Ya," jawabnya. Mereka melanjutkan, "Bagaimana keadaamu? Bukankah jika engkau tinggal bersamanya, keadaanmu? Bukankah jika engkau tinggal bersamanya, keadaanmu tentu tidak seperti ini? Engkau hamba yang berlakuan buruk dan bersalah."Uways menanggapi, "Ya, aku me-mang hamba yang buruk. Majikan paling baik adalah Majikanku, namun aku malah banyak berbuat salah, Seandainya aku taat kepada-Nya dan meminta rida-Nya, tentu aku tidak seperti ini. "ia lalu menangis hingga nyaris mati.

Melihatnya begitu, orang-orang merasa iba. me-reka mengira bahwa yang di maksud olehnya adalah majikan di dunia, padahal yang ia maksud adalah Tuhan Rabul-alamin. Seseorang menasehati, "jangan takut, aku akan meminta jaminan keselamatan dari majikanmu. kem-balilah dan mintalah ampun!" Uway berujar, "Aku akan kembali kepadan-Nya dan berharap yang ada pada-Nya."

Uways pergi berziarah ke makam Rasulullah saw. pada hari yang sama dengan rombongan. Mereka ber-jalan bersama dengan penuh semangat.ketika malam tiba, mereka singgah di sebuah tanah lapang. Saat itu ma-lam begitu dingin dan turun hujan lebat. Mereka ber-lindung di kendaraan dan kemah masing-masing, ke-cuali Uways. Ia hanya berdiam di tanah terbuka dan tidak menumpang kemana-mana. Ia telah berjanji kepada diri sendiri untuk tidak meminta sesuatu pun kepada mahluk. ia meminta semua kebutuhannya hanya kepada Allah swt. Begitu dinginnya udara saat itu sehingga sekujur tubuh menggigil. Ia akhirnya mati kedinginan di tengah malam itu.

pagi harinya, ketika rombongan hindak pergi, mereka menyeru Uways, "Bangunlah! Orang-Orang sudah be-rangkat."karena Uways tidak memberikan awaban, lelaki yang dekat mendatangi dan mengerak-gerak-kan badannya. Ia pun mendapati Uways telah me-ninggal dunia. "Wahai rombongan, hamba yang lari dari majikannya ini telah mati," serunya, "kalia tidak boleh pergi sebelum menguburnya,"

Mereka bertanya, "mengapa begitu?" seorang lelaki saleh di antara mereka menerangkan, "Ia adalah se-orang hamba yang bertobat dan hendak kembali kepada majikannya. Ia menyesali perbuatannya. se-moga Allah memberi kita manfaat lewat dirinya. Dia telah menerima tobatnya. Kita khawatir akan dituntut jika membiarkan begitu saja. Kalian harus bersabar sampai kita selesai menggalikan kuburan dan meng-uburnya."

Sebagian mereka berujar, Di sini tidak ada air." sebagian lainnya mengatakan, "coba tanya si petunjuk jalan!" Sipetunjuk jalan berkata, "untuk mencapai tempat air, diperlukan waktu jalan kemudian mengambil ember. Belum jauh perjalanan, tiba-tiba ia melihat kolam air. "sungguh aneh, aku tidak pernah melihat kolam ini sebelumnya. setahuku, disekitar sini tidak pernah ada air,"ujarnya.

Dengan segera ia kembali kepada rombongan seraya berkata, "kebutuhan kalian telah tercukupi. Kalian ting-gal menyiapkan kayu bakar untuk memanas air. Ketika me-reka pergi ke kolam tadi untuk mengambil air, ternyata airnya telah panas. Mereka pun bertambah heran, Timbullah rasa takut mereka terhadap Uways. "Hamba ini pasti memiliki keistimewaan," simpul mereka.

Mereka mulai menggali kuburannya, tanah yang digali sangat lunak dan menebarkan aroma se-harum kesturi. Tidak perna mereka mencium aroma sewangi itu, Mereka semakin takut dan cemas. Yang mereka lihat memang hanya tanah, tetapi tanah itu begitu harum bak misik.

Mereka kemudian mendirikan kemah dan me-nempat-kan jenazah Uways di dalamnya. Mereka be-rebut ingin mengafani Uways. masing-masing berkata, "saya saja yang mengafaninya." Akhirnya, mereka se-pakat bahwa setiap orang dipersilahkan menyumbang kafan untuk-nya. Mereka mengambil tinta dan kertas untuk me-nulis ciri-ciri Uways. pikir mereka, "Apabila kita sam-pai ke Madinah insya Allah, Mudah-mudahan ada yang me-ngenalnya di sana." catatan tersebut mereka letak di temapat barang.

ketika telah dimandikan dan hendak dikafani, baju yang melekat di tubuh Uways tersingkap. Ternyata ia telah dikafani dengan kain dari surga. Baru pertanama kalinya mereka semua menyaksikan hal semacam itu, mereka mendapati misik dan ambar pada kafan itu. Wanginya menyebar ke segala penjuru. Di kening dan kainya pun terdapat cap dari kesturi.

Mereka mengucap, "La Hawla wa la quwwata illa billah al-'alayy al-'azhim. Allah Swt. telah mengafaninya de-ngan sempurna sehingga tidak memerlukan kafan ma-nusia. Semoga Allah Swt. menganugerahkan surga ke-pada kita dan merahmati kita dengan sebab hamba saleh ini." Mereka sangat menyesal telah menelantarkannya hingga mati kedinginan malam itu

Mereka lalu membawanya untuk di salatkan dan dikebumikan, ketika bertakbir, mereka mendengar suara takbir dari seluruh penjuru langit dan bumi. Jantung dan mata serasa akan copot. saking takutnya, mereka tidak tahu bagaimana menyalatkannya. mereka semakin takut ketika mendengar suara dari atas. se-telah itu, mereka membawanya untuk di kubur. Jenaazah-nya begitu ringan seolah-olah terbang. Mereka menguburnya dan meninggalkan kuburannnya dengan mem-bawa perasaan heran dan takjub.

Tatkala sampai di masjid Kufah, mereka memberitahukan kejadian di atas dan ciri-ciri orang ter-sebut. Ternyata orang-orang di sana mengenalnya. suara tangispun bergemuruh di masjid Kufah. Seandanya tidak ada informasinya, karena Uways senantiasa ber-sem-bunyi dan menghidari manusia. semoga Allah Swt. memberi kita manfaat melalui keberkahannya.




sumber: buku Air mata penghapus dosa






Komentar

Postingan Populer